Cox Media Group selanjutnya menyatakan bahwa perusahaan tidak mendengarkan percakapan pengguna secara langsung. Menurut perusahaan, teknologi tersebut menggunakan kumpulan data pihak ketiga yang telah diagregasi dan dianonimkan.
Kontroversi tersebut tetap penting karena memperlihatkan mengapa kekhawatiran masyarakat mengenai mikrofon dan iklan tidak sepenuhnya muncul dari ruang kosong.
Namun, kasus tersebut juga tidak dapat digunakan sebagai bukti bahwa smartphone secara umum terus-menerus merekam seluruh percakapan untuk perusahaan iklan.
Meta Juga Membantah Mendengarkan Percakapan untuk Iklan
Meta telah berulang kali membantah menggunakan mikrofon smartphone untuk menentukan iklan berdasarkan percakapan pengguna.
Menurut perusahaan, mikrofon digunakan apabila pengguna telah memberikan izin dan sedang memakai fitur yang memang membutuhkan akses suara.
Dari perspektif penelitian ilmiah, klaim perusahaan tentu perlu dibandingkan dengan pengujian independen.
Sejauh penelitian yang tersedia, belum terdapat bukti teknis kuat mengenai sistem penyadapan audio massal yang terus-menerus digunakan aplikasi populer untuk menentukan iklan.
Namun, hal tersebut tidak berarti model bisnis periklanan digital tidak mengumpulkan data dalam jumlah besar.
Justru sebagian besar kekuatan sistem tersebut berasal dari data yang secara sadar maupun tidak sadar dihasilkan pengguna selama menggunakan internet.
Algoritma Prediksi Kini Sangat Canggih
Perkembangan machine learning membuat persoalan ini semakin menarik.
Algoritma tidak selalu membutuhkan informasi eksplisit mengenai keinginan seseorang. Sistem dapat mencari pola dari perilaku jutaan pengguna lainnya.
Misalnya, berdasarkan data historis ditemukan bahwa orang yang mulai menonton video mengenai desain interior, mencari harga furnitur, mengunjungi toko elektronik tertentu, dan melihat konten mengenai cicilan rumah memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk membeli peralatan rumah tangga.
Ketika pengguna lain menunjukkan pola serupa, algoritma dapat mulai menampilkan iklan produk rumah tangga.
Pengguna tersebut mungkin bahkan belum menyadari bahwa perilakunya telah berubah.
Akibatnya, ketika iklan muncul tepat setelah sebuah percakapan, algoritma terlihat seperti mengetahui isi pembicaraan.
Padahal sistem sebenarnya melakukan prediksi berdasarkan pola.