Benarkah Stonehenge Pernah Digunakan untuk Memprediksi Gerhana?
Stonehenge, Ilustrasi: DALLĀ·E 3--
riau.disway.id - Stonehenge telah berdiri selama ribuan tahun di Salisbury Plain, Inggris, tetapi tujuan sebenarnya dari monumen tersebut masih menjadi bahan penelitian hingga sekarang. Susunan batu raksasa yang membentuk lingkaran itu jelas bukan dibangun secara sembarangan. Sejumlah bagian Stonehenge memiliki hubungan dengan posisi Matahari, terutama ketika terjadi titik balik Matahari atau solstice.
Hubungan dengan langit inilah yang pada pertengahan abad ke-20 melahirkan sebuah teori menarik. Astronom Gerald Hawkins berpendapat Stonehenge mungkin jauh lebih dari sekadar tempat ritual. Menurut teorinya, masyarakat prasejarah dapat menggunakan struktur tertentu di kompleks Stonehenge sebagai alat untuk mengikuti siklus Matahari dan Bulan, bahkan memperkirakan kemungkinan terjadinya gerhana.
Gagasan tersebut begitu menarik sehingga Stonehenge kemudian populer digambarkan sebagai semacam "komputer prasejarah".
Namun, lebih dari enam dekade setelah teori itu dikembangkan, pengetahuan arkeologi mengenai Stonehenge telah berubah. Bukti modern justru memperlihatkan bahwa fungsi monumen tersebut kemungkinan jauh lebih kompleks daripada sekadar alat penghitung astronomi.
Komputer Membantu Mengungkap Pola di Stonehenge
Gerald Hawkins mulai serius mempelajari Stonehenge setelah mengunjungi situs tersebut pada 1961. Sebagai seorang astronom, ia tertarik pada bagaimana berbagai batu dan celah di antara struktur Stonehenge tampak mengarah menuju bagian tertentu dari cakrawala.
Hawkins kemudian membawa pendekatan yang pada masa tersebut masih tergolong baru dalam penelitian monumen prasejarah: komputer elektronik.
Ia memetakan berbagai bagian Stonehenge, termasuk posisi batu, lengkungan, lubang, dan gundukan. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan perhitungan posisi Matahari dan Bulan pada masa ketika Stonehenge dibangun.
Komputer digunakan karena menghitung kembali posisi benda langit ribuan tahun sebelumnya merupakan pekerjaan yang sangat kompleks apabila dilakukan secara manual.
Hasil analisis Hawkins menunjukkan adanya sejumlah keselarasan yang menurutnya berhubungan dengan posisi terbit dan terbenamnya Matahari serta Bulan.
Temuan tersebut kemudian menjadi dasar buku Stonehenge Decoded yang diterbitkan pada 1965.
"Stonehenge terkunci pada Matahari dan Bulan seperti eratnya hubungan pasang surut," kata Hawkins dalam wawancara BBC pada 1966.
Baginya, pola tersebut menunjukkan bahwa Stonehenge dapat dipandang sebagai observatorium astronomi.
Dari Observatorium Menjadi "Komputer" Prasejarah
Gagasan Hawkins menjadi semakin kontroversial ketika ia mencoba menjelaskan keberadaan Aubrey Holes.
Aubrey Holes merupakan rangkaian 56 lubang yang membentuk lingkaran di sekitar bagian Stonehenge. Hawkins berpendapat jumlah tersebut mungkin mempunyai hubungan dengan siklus astronomi Bulan.
Sumber: