Dari Dasar Selat Sunda, Begini Anak Krakatau Lahir dan Terus Bertumbuh

Senin 07-09-2026,11:33 WIB
Reporter : Makruf
Editor : Makruf

Demi keselamatan, delapan bandara ditutup sementara pada 6 September 2026. Bandara tersebut adalah Soekarno-Hatta di Tangerang, Halim Perdanakusuma di Jakarta, Radin Inten II di Lampung, Husein Sastranegara di Bandung, Budiarto di Curug, Pondok Cabe di Tangerang Selatan, Taufik Kiemas di Pesisir Barat Lampung, dan Atung Bungsu di Pagar Alam.

Kementerian Perhubungan mencatat 1.558 penerbangan tertunda dan sekitar 170.000 penumpang tertahan hingga 6 September 2026 pukul 17.06 WIB. Dari jumlah tersebut, sebanyak 963 penerbangan terdampak di Bandara Soekarno-Hatta.

Besarnya dampak penerbangan memperlihatkan bahwa bahaya abu tidak hanya ditentukan oleh ketebalannya di darat. Konsentrasi abu yang relatif kecil di jalur penerbangan tetap dapat menimbulkan risiko serius bagi pesawat.

Angin Menentukan Arah Persebaran Abu

Partikel berukuran besar biasanya jatuh lebih dekat dengan gunung. Sebaliknya, partikel berukuran sangat kecil dapat bertahan lebih lama di atmosfer dan bergerak mengikuti angin.

Arah angin juga dapat berbeda pada setiap ketinggian. Itulah sebabnya abu dari satu erupsi dapat menyebar ke timur dan barat secara bersamaan pada lapisan atmosfer yang berbeda.

Perubahan arah dan kecepatan angin dapat membuat kawasan terdampak berubah dari waktu ke waktu. Peta persebaran abu harus dipahami sebagai gambaran kondisi pada waktu pengamatan tertentu, bukan sebagai batas tetap.

Hujan dapat membantu membawa abu turun ke permukaan. Tetes air menangkap partikel halus di udara dan mempercepat pengendapannya. Kondisi tersebut dapat menyebabkan hujan abu di wilayah yang sebelumnya hanya berada di bawah lintasan sebaran atmosfer.

Dampak Abu terhadap Kesehatan

Partikel abu vulkanik dapat mengiritasi mata, kulit, hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Orang dengan asma, penyakit paru, gangguan jantung, anak-anak, serta lanjut usia memiliki risiko lebih besar mengalami keluhan.

Ketika hujan abu terjadi, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata. Aktivitas di luar rumah sebaiknya dikurangi apabila konsentrasi abu meningkat.

Makanan, tempat penampungan air, dan peralatan rumah tangga perlu ditutup agar tidak terkontaminasi. Abu sebaiknya tidak langsung disapu dalam keadaan kering karena partikel halus dapat kembali beterbangan.

Permukaan yang tertutup abu dapat dibasahi secara perlahan sebelum dibersihkan. Namun, penggunaan air tidak boleh berlebihan karena abu basah menjadi lebih berat dan dapat meningkatkan beban pada atap.

Bagaimana Teknologi Membantu Memantau Anak Krakatau?

Perubahan Anak Krakatau kini dapat diamati dengan teknologi yang tidak tersedia pada masa letusan 1883. Sensor seismik digunakan untuk merekam gempa vulkanik dan getaran erupsi, sedangkan citra satelit membantu mengikuti arah pergerakan abu.

Peralatan pengukur deformasi dapat mendeteksi perubahan bentuk tubuh gunung yang terjadi akibat tekanan magma. Kamera termal membantu mengenali peningkatan suhu, sementara pengukuran gas memberikan petunjuk mengenai kondisi magma di bawah permukaan.

Pemetaan batimetri juga digunakan untuk mempelajari bentuk dasar laut di sekitar Anak Krakatau. Data tersebut penting untuk mengidentifikasi endapan longsoran dan perubahan lereng bawah laut.

Gabungan berbagai metode memungkinkan ilmuwan memahami aktivitas gunung secara lebih menyeluruh. Satu jenis data saja tidak selalu cukup untuk menentukan perkembangan erupsi atau potensi bahayanya.

Penutup

Gunung Anak Krakatau lahir dari aktivitas vulkanik yang tetap berlangsung setelah kehancuran Krakatau pada 1883. Erupsi bawah laut dimulai pada 1927, sedangkan daratan vulkaniknya mampu bertahan di atas permukaan laut sejak 1929.

Tags :
Kategori :

Terkait