Dari Dasar Selat Sunda, Begini Anak Krakatau Lahir dan Terus Bertumbuh

Senin 07-09-2026,11:33 WIB
Reporter : Makruf
Editor : Makruf

Ketika magma naik dan bersentuhan dengan air laut, panas yang sangat tinggi membuat air berubah menjadi uap dengan cepat. Peningkatan tekanan dapat menghasilkan ledakan yang memecah magma menjadi abu dan fragmen batuan.

Material tersebut kemudian menumpuk di sekitar lubang erupsi. Namun, pulau-pulau kecil yang terbentuk pada masa awal belum cukup kuat untuk menghadapi gelombang dan arus laut. Daratan yang sempat muncul beberapa kali kembali terkikis.

Erupsi yang berulang terus menambahkan material. Lava yang keluar kemudian mendingin dan menjadi batuan padat. Lapisan lava membantu memperkuat endapan abu, pasir, dan pecahan batuan yang sebelumnya mudah dihancurkan gelombang.

Pada 1929, daratan vulkanik itu akhirnya mampu bertahan di atas permukaan laut. Kerucut baru tersebut kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.

Arti Nama Anak Krakatau

Nama Anak Krakatau diberikan karena gunung baru tersebut tumbuh dari kawasan kaldera Krakatau. Dalam berbagai literatur internasional, Anak Krakatau diterjemahkan menjadi “Child of Krakatau” atau “anak dari Krakatau”.

Kata “anak” digunakan untuk menunjukkan bahwa gunung tersebut lahir setelah kehancuran gunung pendahulunya dan masih menjadi bagian dari sistem vulkanik yang sama.

Namun, Anak Krakatau bukan sekadar potongan tubuh Krakatau lama yang kembali muncul. Kerucutnya dibentuk oleh material erupsi baru yang menumpuk sejak aktivitas bawah laut dimulai pada 1927.

Penulisan yang benar adalah Gunung Anak Krakatau. Apabila kata “Gunung” tidak dicantumkan, namanya cukup ditulis Anak Krakatau. Susunan “Anak Gunung Krakatau” tidak tepat digunakan sebagai nama geografis.

Anak Krakatau Dibangun dan Dihancurkan oleh Alam

Pertumbuhan Anak Krakatau berlangsung melalui penumpukan material vulkanik. Setiap erupsi dapat mengeluarkan lava, abu, batu pijar, dan fragmen batuan yang kemudian membentuk lapisan baru.

Lava yang membeku membantu memperkuat kerucut. Sebaliknya, lapisan yang didominasi material lepas dapat lebih mudah tererosi atau longsor.

Proses tersebut membuat pertumbuhan Anak Krakatau tidak selalu berjalan satu arah. Gunung ini dapat bertambah tinggi dan luas, tetapi kemudian kehilangan sebagian tubuhnya akibat erupsi, longsor, atau hantaman gelombang.

Perubahan drastis terjadi pada 22 Desember 2018 ketika sebagian lereng barat daya Anak Krakatau runtuh ke laut. Perpindahan material tersebut memicu tsunami yang menghantam sebagian pesisir Banten dan Lampung.

Tsunami itu menewaskan lebih dari 400 orang. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa tsunami tidak hanya dapat dipicu oleh gempa tektonik. Longsoran gunung api yang masuk ke laut juga mampu memindahkan air dalam jumlah besar.

Penelitian modern menggunakan pemetaan dasar laut menemukan endapan longsoran di sebelah barat daya Anak Krakatau. Temuan tersebut mendukung kesimpulan bahwa keruntuhan lateral gunung merupakan penyebab tsunami 2018.

Setelah keruntuhan, tubuh Anak Krakatau kembali dibangun oleh erupsi. Material baru perlahan menutupi bagian yang runtuh dan mengubah garis pantai pulau vulkanik tersebut.

Erupsi Menerus Terjadi pada September 2026

Gunung Anak Krakatau kembali mengalami peningkatan aktivitas pada 2026. Statusnya dinaikkan dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga pada 2 Juli 2026.

Tags :
Kategori :

Terkait