Dari Dasar Selat Sunda, Begini Anak Krakatau Lahir dan Terus Bertumbuh

Senin 07-09-2026,11:33 WIB
Reporter : Makruf
Editor : Makruf

riau.disway.id - Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah mengalami erupsi pada September 2026. Aktivitas tersebut tidak hanya menghasilkan dentuman dan air mancur lava, tetapi juga menyebarkan abu vulkanik ke ruang udara sejumlah wilayah di Indonesia.

Abu terdeteksi melintasi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu. Hujan abu juga dilaporkan berdampak pada sejumlah kecamatan di Kabupaten Serang serta beberapa wilayah di Lampung.

Aktivitas terbaru ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Krakatau. Gunung Anak Krakatau pada dasarnya merupakan gunung api muda yang lahir setelah letusan dahsyat Krakatau pada 1883.

Gunung tersebut terus dibangun oleh magma yang naik ke permukaan. Pada saat yang sama, tubuhnya dapat terkikis, longsor, atau runtuh. Karena itu, bentuk Gunung Anak Krakatau yang terlihat sekarang bukanlah bentuk akhirnya.

Krakatau Pernah Memiliki Beberapa Kerucut Gunung Api

Sebelum letusan besar 1883, Krakatau merupakan sebuah kompleks gunung api di Selat Sunda. Kompleks tersebut memiliki sejumlah pusat erupsi, termasuk Perbuwatan, Danan, dan Rakata.

Sumber magma Krakatau berkaitan dengan proses penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Sunda. Ketika lempeng samudra bergerak menuju bagian dalam Bumi, air dan zat volatil yang tersimpan di dalam batuan ikut terbawa.

Zat tersebut kemudian dilepaskan pada kedalaman tertentu dan membantu memicu pelelehan batuan di bagian atas mantel. Material yang mencair membentuk magma, lalu bergerak naik melalui rekahan kerak Bumi.

Magma dapat tertahan terlebih dahulu di bawah permukaan sebelum akhirnya keluar melalui kawah. Tekanan yang terus bertambah, kandungan gas, komposisi magma, dan interaksi dengan air dapat menentukan karakter letusannya.

Letusan 1883 Membentuk Kaldera Besar

Krakatau mulai menunjukkan peningkatan aktivitas pada Mei 1883. Erupsi kemudian mencapai puncaknya pada 26 dan 27 Agustus 1883.

Letusan tersebut mengeluarkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar. Abu, gas, batu apung, dan aliran piroklastik menyebar ke kawasan sekitarnya. Sebagian besar tubuh Krakatau kemudian runtuh dan membentuk kaldera.

Kaldera merupakan cekungan besar yang dapat terbentuk ketika sebagian atap ruang magma tidak lagi mampu menopang beban di atasnya. Setelah magma dalam jumlah besar dikeluarkan, bagian tubuh gunung dapat kehilangan penyangga dan mengalami keruntuhan.

Perubahan besar pada tubuh Krakatau turut memindahkan air laut dan memicu tsunami. Gelombang menyapu pesisir Banten dan Lampung serta menyebabkan lebih dari 36.000 orang meninggal.

Smithsonian Institution melalui Global Volcanism Program mencatat bahwa sebagian besar korban letusan Krakatau meninggal akibat tsunami. Aliran piroklastik juga mampu bergerak melintasi Selat Sunda dan mencapai pesisir Sumatra.

Meskipun tubuh Krakatau mengalami kehancuran besar, sumber magmanya tidak berhenti bekerja. Aktivitas di bawah kaldera tetap berlangsung dan akhirnya menciptakan gunung baru.

Gunung Baru Mulai Muncul pada 1927

Sekitar 44 tahun setelah letusan besar Krakatau, erupsi bawah laut mulai teramati di dalam kaldera pada 1927. Pusat aktivitas berada di antara lokasi bekas kerucut Danan dan Perbuwatan.

Tags :
Kategori :

Terkait