Mo Salah dan Kekecewaan Piala Afrika yang Terulang
Salah dan Mane, Image: @scholesphotography / Instagram--
riau.disway.id - Piala Afrika kembali menghadirkan cerita pahit bagi Mohamed Salah. Turnamen yang selalu menjadi panggung harapan bagi Mesir itu lagi-lagi berakhir tanpa gelar, meskipun sang kapten tampil sebagai figur sentral di lapangan. Empat gol dari lima pertandingan menegaskan perannya sebagai tumpuan utama serangan, tetapi kontribusi individu tersebut tidak mampu mengubah hasil akhir yang kembali mengecewakan.
Langkah Mesir terhenti pada fase krusial setelah kembali dikalahkan oleh Senegal. Pola ini terasa berulang dan semakin mempertegas betapa sulitnya jalan Salah untuk menaklukkan kompetisi kontinental Afrika. Seusai laga, tidak ada luapan emosi berlebihan. Ekspresi tenang dan senyum tipis justru menggambarkan beban panjang yang telah ia pikul sepanjang karier internasionalnya.
Dalam pernyataan setelah salah satu kemenangan penting, Salah sempat menggambarkan suasana tim yang solid, penuh keakraban, dan kerja keras. Namun, harmoni internal itu tetap tidak cukup untuk membawa Mesir ke partai puncak. Piala Afrika sekali lagi menempatkan Salah pada posisi yang sama: tampil menonjol, tetapi pulang tanpa trofi.
Beban Sejarah dan Penantian Panjang
Kekecewaan ini bukan yang pertama. Dalam edisi-edisi sebelumnya, Salah juga mengalami nasib serupa, termasuk kegagalan di partai final dan tersingkir lebih awal karena berbagai faktor. Piala Afrika seolah menjadi satu kepingan besar yang belum lengkap dalam perjalanan kariernya yang sarat prestasi di level klub.
Sebagai pemain yang telah meraih hampir semua gelar penting bersama klub, kegagalan di level tim nasional Afrika selalu terasa lebih personal. Ekspektasi publik Mesir begitu besar, dan tekanan itu terus melekat setiap kali turnamen digelar. Setiap kegagalan bukan hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga tentang mimpi kolektif yang kembali tertunda.
Kembali ke Liverpool dengan Situasi Berbeda
Setelah Piala Afrika berakhir, fokus segera beralih ke Anfield. Mohamed Salah kembali ke Liverpool dengan situasi yang tidak sepenuhnya sama seperti sebelum ia berangkat. Selama absennya, tim mampu menjaga catatan tanpa kekalahan dalam sejumlah pertandingan, meskipun performa permainan kerap menuai kritik.
Hasil tersebut memunculkan diskusi baru tentang keseimbangan tim dan peran Salah di dalamnya. Di satu sisi, Liverpool menunjukkan bahwa mereka mampu bertahan tanpa kehadirannya. Di sisi lain, absennya sosok berpengaruh seperti Salah tetap meninggalkan ruang kosong dalam dinamika serangan dan kepemimpinan di lapangan.
Kondisi internal tim juga sempat diwarnai ketegangan sebelum Piala Afrika, ketika Salah melontarkan pernyataan keras terkait posisinya di skuad. Meski situasi tersebut mereda dan ia kembali masuk dalam tim, bayang-bayang ketidakpastian tetap menyertai langkahnya saat kembali ke Inggris.
Sambutan Anfield dan Dukungan Suporter
Terlepas dari berbagai spekulasi, hubungan emosional antara Salah dan suporter Liverpool masih terasa kuat. Pada penampilan terakhirnya sebelum bergabung dengan tim nasional, ia mendapat sambutan hangat dan bahkan berkontribusi langsung dengan assist. Setelah pertandingan, ia menyempatkan diri memberi penghormatan kepada para pendukung di seluruh tribun, sebuah momen yang memperlihatkan ikatan yang belum pudar.
Dukungan itu menjadi penegasan bahwa bagi banyak pendukung, Salah tetap menjadi figur penting klub. Prestasi, konsistensi, dan dedikasinya selama bertahun-tahun tidak mudah dilupakan, bahkan ketika masa depannya mulai dipertanyakan.
Kontrak, Ambisi, dan Masa Depan yang Belum Pasti
Dengan kontrak yang mendekati akhir masa berlaku, masa depan Mohamed Salah di Liverpool menjadi topik yang terus berkembang. Ia dikenal sebagai pemain yang ingin selalu berada di lapangan dan memainkan peran utama. Opsi untuk bertahan, mencari tantangan baru, atau membuka babak berbeda dalam kariernya akan terus menjadi bahan pembicaraan selama belum ada kepastian resmi.
Cedera yang menimpa beberapa pemain kunci Liverpool membuka peluang bagi Salah untuk kembali menjadi pusat permainan. Namun, persaingan internal dan keputusan taktis pelatih akan menentukan bagaimana perannya ke depan. Tidak ada jaminan, tetapi pengalaman dan kualitasnya tetap menjadi modal besar.
Penutup: Kekecewaan yang Berlanjut, Tantangan yang Menunggu
Mo Salah dan kekecewaan di Piala Afrika yang terulang menjadi potret perjalanan seorang bintang yang belum selesai. Di level internasional, mimpi itu kembali tertunda. Di level klub, tantangan baru menanti di tengah dinamika yang berubah. Apa pun yang terjadi selanjutnya, fase ini akan menjadi salah satu periode paling menentukan dalam kariernya, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi Liverpool.
Referensi
-
Mo Salah: Liverpool future uncertain following Afcon disappointment — BBC Sport
Sumber: