Jomblo tetapi bahagia bukan sesuatu yang mustahil. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa kesejahteraan manusia berkaitan dengan banyak aspek, termasuk otonomi, hubungan sosial, tujuan hidup, dan kemampuan memenuhi kebutuhan emosional. Pasangan romantis dapat menjadi salah satu sumber kebahagiaan, tetapi bukan satu-satunya.
Hal terpenting bukan apakah seseorang sedang memiliki pasangan, melainkan apakah ia mampu menjalani kehidupan yang bermakna, memiliki hubungan sosial yang sehat, dan merasa cukup berharga sebagai dirinya sendiri. Menjadi lajang bukan berarti gagal dalam kehidupan asmara, sebagaimana memiliki pasangan juga tidak otomatis menjamin kebahagiaan.
Referensi:
-
Deci, Edward L., dan Richard M. Ryan. The "What" and "Why" of Goal Pursuits: Human Needs and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry.
-
Diener, Ed, Eunkook M. Suh, Richard E. Lucas, dan Heidi L. Smith. Subjective Well-Being: Three Decades of Progress. Psychological Bulletin.
-
Holt-Lunstad, Julianne, Timothy B. Smith, dan J. Bradley Layton. Social Relationships and Mortality Risk: A Meta-Analytic Review. PLOS Medicine.
-
DePaulo, Bella. Singled Out: How Singles Are Stereotyped, Stigmatized, and Ignored, and Still Live Happily Ever After.