Benarkah Orang yang Suka Makan Pedas Punya Peluang Hidup Lebih Lama?

Benarkah Orang yang Suka Makan Pedas Punya Peluang Hidup Lebih Lama?

Makanan Pedas, Rahasia Panjang Umur, Image: The Passenger / Pixabay--

 

riau.disway.id - Makanan pedas menjadi bagian dari kebiasaan makan banyak orang, termasuk masyarakat Indonesia yang terbiasa menikmati sambal, cabai rawit, dan berbagai hidangan bercita rasa kuat. Namun, di balik sensasi panas yang ditimbulkannya, konsumsi makanan pedas ternyata pernah dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih rendah dalam sejumlah penelitian ilmiah. Lantas, benarkah orang yang gemar makan pedas memiliki peluang hidup lebih lama dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya?

Penelitian memang menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi cabai dan penurunan risiko kematian. Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti bahwa makanan pedas secara langsung membuat seseorang panjang umur. Ada sejumlah faktor yang perlu dipahami sebelum menarik kesimpulan mengenai manfaat kebiasaan ini bagi kesehatan.

Penelitian Mengungkap Hubungan Makanan Pedas dan Umur Panjang

Salah satu penelitian yang cukup banyak dibahas mengenai topik ini diterbitkan dalam jurnal medis internasional The BMJ pada 2015. Penelitian tersebut melibatkan 487.375 orang dewasa berusia 30 hingga 79 tahun di China yang diikuti selama beberapa tahun untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan mengonsumsi makanan pedas dan risiko kematian.

Selama masa pengamatan dengan median 7,2 tahun, para peneliti menemukan bahwa peserta yang mengonsumsi makanan pedas enam hingga tujuh hari dalam seminggu memiliki risiko kematian relatif sekitar 14 persen lebih rendah dibandingkan peserta yang mengonsumsi makanan pedas kurang dari sekali seminggu, setelah memperhitungkan sejumlah faktor lain.

Hubungan serupa juga ditemukan pada kematian akibat beberapa penyebab tertentu, termasuk penyakit jantung iskemik, kanker, dan penyakit pernapasan.

Hasil tersebut memberikan petunjuk bahwa konsumsi makanan pedas mungkin berkaitan dengan kesehatan jangka panjang. Namun, penelitian itu bersifat observasional, sehingga tidak dapat membuktikan bahwa cabai merupakan penyebab langsung dari penurunan risiko kematian.

Orang yang terbiasa mengonsumsi makanan pedas mungkin memiliki kebiasaan makan, aktivitas fisik, kondisi sosial, atau karakteristik kesehatan lain yang turut memengaruhi hasil penelitian. Faktor-faktor tersebut membuat hubungan antara makanan pedas dan umur panjang perlu ditafsirkan secara hati-hati.

Capsaicin, Senyawa yang Membuat Cabai Terasa Pedas

Salah satu alasan makanan pedas menarik perhatian para peneliti adalah kandungan capsaicin di dalam cabai. Senyawa ini bertanggung jawab atas sensasi panas yang muncul ketika seseorang mengonsumsi cabai.

Capsaicin berinteraksi dengan reseptor TRPV1, yaitu protein yang berperan dalam mendeteksi panas dan rangsangan tertentu. Aktivasi reseptor tersebut mengirimkan sinyal ke sistem saraf sehingga otak merasakan sensasi terbakar, meskipun suhu makanan sebenarnya tidak harus tinggi.

Dalam berbagai penelitian laboratorium dan penelitian pada hewan, capsaicin telah dikaitkan dengan sejumlah proses biologis, termasuk pengaturan metabolisme energi, respons peradangan, dan fungsi pembuluh darah.

Senyawa ini juga diteliti karena potensinya dalam memengaruhi nafsu makan dan penggunaan energi oleh tubuh. Beberapa penelitian pada manusia menunjukkan kemungkinan adanya pengaruh terhadap pengeluaran energi dan asupan makanan, tetapi efeknya dapat berbeda-beda dan tidak selalu besar.

Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa temuan mengenai mekanisme biologis tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa mengonsumsi banyak cabai akan memperpanjang usia manusia. Efek yang ditemukan dalam penelitian laboratorium tidak selalu muncul dengan kekuatan yang sama ketika seseorang mengonsumsi cabai sebagai bagian dari makanan sehari-hari.

Apakah Semua Makanan Pedas Memiliki Manfaat yang Sama?

Tidak semua makanan pedas memiliki komposisi gizi yang sama. Cabai segar, sambal rumahan, saus pedas kemasan, dan makanan instan bercita rasa pedas dapat mengandung bahan tambahan yang berbeda.

Cabai segar dapat menyediakan vitamin C, karotenoid, dan sejumlah senyawa bioaktif. Kandungan tersebut dapat menjadi bagian dari pola makan yang beragam dan bergizi.

Sumber: