AI Berhasil Menulis Genom Virus untuk Pertama Kalinya, Ilmuwan Ingatkan Risiko Keamanan

Jumat 07-08-2026,16:59 WIB
Reporter : Makruf
Editor : Makruf

riau.disway.id - Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kembali mencatat pencapaian baru di dunia sains. Tim peneliti dari Stanford University berhasil memanfaatkan AI untuk merancang genom virus secara utuh hingga menghasilkan 16 virus baru yang dapat bereplikasi di laboratorium.

Pencapaian ini menjadi yang pertama dalam sejarah, sekaligus membuka peluang besar bagi pengembangan terapi medis. Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa kemampuan AI menciptakan materi genetik baru harus diiringi pengawasan ketat agar tidak disalahgunakan.

AI Belajar Memahami Bahasa Genetik

Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science, para peneliti menggunakan model AI bernama Evo1 dan Evo2. Berbeda dengan chatbot yang memprediksi rangkaian kata, model ini mempelajari pola pada jutaan urutan DNA dari virus, bakteri, tumbuhan, hingga manusia.

Berdasarkan pengetahuan tersebut, AI kemudian merancang genom baru untuk bakteriofag, yaitu virus yang hanya menginfeksi bakteri.

Dari 302 rancangan genom yang dipilih untuk diuji di laboratorium, sebanyak 16 berhasil menjadi virus yang berfungsi normal dan mampu menyerang bakteri Escherichia coli (E. coli).

Menurut pemimpin penelitian Brian Hie, keberhasilan ini menunjukkan bahwa AI kini mampu memahami prinsip dasar penyusunan genom yang sebelumnya hanya bisa dilakukan melalui penelitian biologis yang panjang.

Harapan Baru Mengatasi Resistensi Antibiotik

Virus yang diciptakan dalam penelitian ini bukan ditujukan untuk menginfeksi manusia. Sebaliknya, bakteriofag tersebut dirancang sebagai kandidat terapi untuk membunuh bakteri penyebab penyakit.

Pendekatan ini dinilai menjanjikan karena dunia saat ini menghadapi meningkatnya kasus bakteri yang kebal terhadap antibiotik. Dengan bantuan AI, ilmuwan dapat mempercepat proses pencarian virus yang paling efektif untuk melawan bakteri tertentu.

Jika terus dikembangkan, teknologi tersebut juga berpotensi membantu pembuatan enzim, antibodi, hingga terapi gen yang lebih presisi.

Pakar Minta Pengawasan Ketat

Meski membawa harapan besar, penelitian ini juga memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan biologis.

Dalam komentar yang menyertai publikasi di jurnal Science, peneliti dari Center for Health Security Johns Hopkins University menilai kemajuan AI membuat pertanyaan mengenai biosafety dan biosecurity menjadi semakin mendesak.

Mereka menegaskan bahwa kemampuan AI mendesain genom virus tidak boleh dimanfaatkan untuk menciptakan patogen yang berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia.

Karena itu, pengembangan teknologi AI di bidang biologi perlu disertai regulasi, standar keamanan laboratorium, dan pengawasan internasional yang kuat.

Penelitian Difokuskan pada Virus yang Aman

Tim Stanford menjelaskan bahwa seluruh penelitian dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselamatan.

Model AI tidak dilatih menggunakan virus yang menginfeksi manusia maupun hewan. Semua eksperimen hanya melibatkan bakteriofag yang secara alami menyerang bakteri.

Selain itu, proses sintesis dan pengujian dilakukan di laboratorium dengan prosedur keamanan biologis sehingga tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat.

AI Memasuki Era Baru Rekayasa Biologi

Para ilmuwan menilai penelitian ini menjadi tonggak penting dalam perkembangan biologi sintetis. Untuk pertama kalinya, AI mampu membantu merancang genom yang bukan sekadar menyerupai organisme alami, tetapi juga dapat berfungsi setelah diwujudkan di laboratorium.

Meski masih terbatas pada virus sederhana, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa AI mulai memainkan peran besar dalam penelitian bioteknologi modern.

Ke depan, tantangan utama bukan hanya mengembangkan kemampuan AI, tetapi juga memastikan teknologi tersebut dimanfaatkan secara bertanggung jawab demi kepentingan kesehatan dan kemanusiaan.

Referensi:

  • BBC News, "Artificial Intelligence Used to Design Brand New Viruses"
  • Science
  • Stanford University
Tags :
Kategori :

Terkait