Vinicius Bicara Lewat Gol, Madrid Kirim Pesan Tegas Anti Rasisme
Vinicious Junior, Image: @vinijr / Instagram--
riau.disway.id - Real Madrid memastikan langkah ke babak 16 besar Liga Champions setelah menundukkan Benfica dengan agregat 3 1. Namun yang membekas dari pertandingan itu bukan sekadar kelolosan, melainkan pesan yang mengiringinya. Vinicius Junior kembali menjadi pusat perhatian, bukan hanya karena golnya, tetapi juga karena makna di balik selebrasinya.
Sejak leg pertama, isu dugaan rasisme membayangi duel ini. Vinicius menuduh pemain Benfica, Gianluca Prestianni, melakukan tindakan rasial. Tuduhan tersebut dibantah, tetapi sanksi larangan satu pertandingan tetap dijatuhkan kepada Prestianni sehingga ia tidak tampil pada leg kedua. Situasi itu membuat laga di Santiago Bernabeu berlangsung dalam atmosfer yang berbeda.
Respons di Atas Lapangan
Benfica sempat unggul lebih dulu di leg kedua, membuat tekanan mengarah ke tuan rumah. Madrid membutuhkan respons cepat agar tidak kehilangan kendali. Aurelien Tchouameni mencetak gol penyeimbang sebelum akhirnya Vinicius memastikan kemenangan 2 1 lewat gol di menit ke 80.
Gol itu terasa istimewa. Vinicius merayakannya dengan tarian khas yang sudah menjadi ciri dirinya. Selebrasi tersebut pernah menuai perdebatan di masa lalu, tetapi kali ini ia kembali melakukannya dengan penuh keyakinan. Seusai laga, ia menulis bahwa tarian itu terus berlanjut, sebuah kalimat sederhana yang sarat pesan.
Bagi banyak pihak, tarian itu adalah simbol. Ia tidak mengubah gaya bermain, tidak menahan ekspresi, dan tidak membiarkan tekanan memengaruhi identitasnya. Di tengah isu sensitif, ia memilih menjawab dengan performa.
Dukungan yang Menggema
Sebelum pertandingan dimulai, spanduk bertuliskan penolakan terhadap rasisme dibentangkan di tribun. Para suporter menunjukkan solidaritas terbuka. Pesan yang sama juga datang dari ruang ganti.
Tchouameni menyatakan bahwa ada hal yang lebih penting daripada sepak bola. Ia menyebut kemenangan tersebut sebagai kemenangan bagi semua yang berdiri melawan rasisme. Rekan setimnya, Trent Alexander Arnold, menilai Vinicius tetap santai dan fokus sebelum laga, tanpa terlihat terbebani oleh sorotan.
Penjaga gawang Thibaut Courtois mengungkapkan kebahagiaannya melihat Vinicius terus menari. Bagi Courtois, setiap tarian berarti gol tambahan untuk tim.
Pelatih Alvaro Arbeloa pun mengakui bahwa ia ikut merasakan kebahagiaan ketika Vinicius mencetak gol penting tersebut. Momen itu tidak hanya memastikan kelolosan Madrid, tetapi juga memperlihatkan keteguhan mental pemain muda asal Brasil tersebut.
Lebih dari Sekadar Tiket 16 Besar
Pertandingan ini juga diwarnai kembalinya Jose Mourinho ke Bernabeu untuk pertama kalinya sejak meninggalkan klub pada 2013. Meski tidak bisa mendampingi tim dari bangku cadangan karena sanksi, kehadirannya menambah lapisan cerita dalam laga yang sudah sarat emosi.
Madrid juga harus bermain tanpa Kylian Mbappe yang mengalami cedera lutut. Keputusan untuk mengistirahatkannya diambil demi memastikan kondisi terbaik pada laga berikutnya.
Namun sorotan tetap kembali kepada Vinicius. Dalam beberapa musim terakhir, ia beberapa kali menghadapi perlakuan tidak pantas di berbagai stadion. Responsnya konsisten, tampil maksimal dan membiarkan permainan berbicara.
Kesimpulan
Kemenangan Real Madrid atas Benfica menegaskan posisi mereka sebagai salah satu kandidat kuat di Liga Champions musim ini. Akan tetapi, makna pertandingan itu melampaui hasil akhir. Gol dan tarian Vinicius Junior menjadi pesan bahwa diskriminasi tidak akan memadamkan semangat dan ekspresi seorang pemain.
Sepak bola sering disebut sebagai bahasa universal. Pada malam itu, bahasa tersebut berbicara tentang keberanian, solidaritas, dan keteguhan sikap. Madrid melaju ke fase berikutnya, dan bersama itu, pesan anti rasisme kembali digaungkan dengan lantang.
Referensi:
BBC Sport, Real Madrid win against Benfica for everyone who is against racism
Sumber: