Hanya Kapal Negara Ini yang Boleh Lewat Selat Hormuz!

Hanya Kapal Negara Ini yang Boleh Lewat Selat Hormuz!

Selat Hormuz diblokade Iran pasca serangan AS-Israel. Harga BBM dunia meroket, 1.900 kapal tertahan! - ANTARA - --

RIAU, DISWAY.ID - Dunia sedang menahan napas. Eskalasi militer di Timur Tengah mencapai titik didih setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 lalu. Dampaknya mengerikan: Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur, ribuan nyawa melayang, dan kini jalur urat nadi energi dunia, Selat Hormuz, resmi "digembok" oleh Teheran!

Blokade de facto ini langsung mencekik pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global. Akibatnya, harga bahan bakar di berbagai belahan dunia meroket tajam. Tercatat, sekitar 1.900 kapal komersial terjebak dan terpaksa menjatuhkan jangkar di perairan terbuka Teluk Persia karena tak berani melintas di tengah hujan mesiu.

Eskalasi Memanas: Iran Balas Dendam Lewat Jalur Laut

Teheran tidak tinggal diam. Sebagai balasan atas agresi yang menghancurkan fasilitas umum mereka, Iran melancarkan serangan balik ke markas militer AS di Timur Tengah. Tak hanya itu, mereka secara efektif menutup jalur perairan strategis bagi siapa pun yang terafiliasi dengan musuh bebuyutan mereka.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki alasan untuk membiarkan aset lawan melenggang bebas di wilayah mereka.

"Kami telah mengizinkan kapal-kapal dari China, Rusia, India, Pakistan, dan Irak, serta negara-negara lain yang kami anggap sahabat, untuk melewati Selat Hormuz," tegas Araghchi mengutip laporan Al Mayadeen pada 26 Maret 2026.

Daftar Negara "Beruntung" yang Dapat Lampu Hijau

Meski situasi mencekam, Iran masih membuka pintu bagi negara-negara yang dianggap netral atau tidak terlibat agresi. Berikut adalah daftar negara yang kapalnya mendapat izin khusus untuk melintasi zona merah tersebut:

  • Rusia, China, India, Pakistan, dan Irak: Menjadi kelompok utama yang mendapat restu langsung dari Teheran sebagai negara sahabat.
  • Malaysia: Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengonfirmasi bahwa kapal tanker Malaysia mulai dilepaskan untuk perjalanan pulang setelah koordinasi intensif.
  • Thailand: Kapal milik Bangchak Corporation dilaporkan telah berhasil melewati selat dengan selamat pada 23 Maret.
  • Bangladesh: Kapal-kapal Bangladesh dilaporkan tidak dikenai pembatasan karena dianggap sebagai negara yang "tidak bermusuhan".
  • Jepang: Teheran menyatakan kesiapan memfasilitasi pelayaran kapal Jepang jika ada koordinasi teknis yang jelas.

Bagaimana Nasib Kapal Tanker Pertamina Indonesia?

Kabar baik datang untuk publik tanah air. Dua kapal tanker Pertamina yang sempat tertahan di Selat Hormuz mulai menemui titik terang. Kementerian Luar Negeri RI terus bergerak cepat melakukan lobi di Teheran demi menyelamatkan aset energi nasional tersebut.

Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menyebutkan bahwa pemerintah Iran telah memberikan sinyal positif terkait permintaan Indonesia agar kapal tersebut bisa melintas dengan aman.

"Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran," ujar Nabyl pada Jumat lalu di Jakarta. Saat ini, aspek teknis dan operasional sedang digodok agar kapal tanker tersebut bisa segera keluar dari zona konflik.

Bukan Gencatan Senjata, Iran Tuntut Perang Usai

Meskipun memberikan izin melintas bagi beberapa negara, Iran menegaskan posisi mereka tetap keras. Mereka tidak mencari jeda perang sesaat, melainkan penghentian total serangan dari pihak lawan.

"Kami tidak menginginkan gencatan senjata, melainkan pengakhiran perang yang lengkap, komprehensif, dan langgeng," pungkas Araghchi dalam wawancara dengan Kyodo News.

Situasi ini membuat pasar energi dunia makin fluktuatif. Jika konflik ini berlarut-larut tanpa jaminan keamanan permanen, krisis energi global bisa berubah menjadi bencana ekonomi yang tak terelakkan bagi banyak negara. (*)

Sumber: