HP Kelas Menengah Makin Mirip Flagship, Apa yang Sebenarnya Masih Berbeda?
HP Flagship dan Menengah, Ilustrasi: DALLĀ·E 3--
Menariknya, sebagian kemampuan tersebut tidak hanya diberikan kepada flagship.
Produsen mulai membawa fitur AI ke perangkat kelas menengah karena sebagian pemrosesan dapat dilakukan melalui cloud atau menggunakan NPU yang sudah tersedia pada chipset modern.
Namun kemampuan AI yang sepenuhnya dijalankan secara lokal masih dapat menjadi pembeda.
Model AI yang lebih besar membutuhkan RAM, bandwidth memori, NPU, CPU, dan GPU yang lebih kuat. Flagship memiliki ruang performa lebih besar untuk kebutuhan tersebut.
Dengan semakin berkembangnya generative AI, kemampuan menjalankan model secara lokal berpotensi menjadi salah satu alasan chipset premium tetap relevan.
Dukungan Software Tidak Lagi Eksklusif untuk HP Mahal
Perubahan besar lainnya terjadi pada pembaruan software.
Dahulu konsumen yang menginginkan dukungan sistem operasi panjang biasanya diarahkan ke smartphone premium.
Sekarang sejumlah perangkat kelas menengah mendapatkan dukungan yang jauh lebih lama.
Samsung Galaxy A56, misalnya, mendapatkan komitmen enam generasi pembaruan sistem operasi dan enam tahun pembaruan keamanan. Google Pixel 9a mendapatkan tujuh tahun pembaruan OS, keamanan, dan Pixel Drop.
Durasi tersebut sangat panjang untuk sebuah smartphone.
Bahkan tidak semua pengguna akan mempertahankan perangkatnya selama periode tersebut.
Hal ini membuat dukungan software semakin sulit digunakan sebagai alasan utama untuk memilih flagship.
Mengapa Produsen Membiarkan Kelas Menengah Semakin Bagus?
Sekilas strategi tersebut terlihat aneh.
Jika HP kelas menengah terlalu bagus, bukankah konsumen menjadi tidak tertarik membeli flagship?
Namun segmentasi smartphone bekerja melalui diferensiasi bertingkat.
Sumber: