Ketertarikan terhadap kemampuan Hamilton ternyata tidak cukup untuk membuat Red Bull melanjutkan negosiasi secara agresif. Menurut Horner, persoalan utama terletak pada nilai finansial yang dibutuhkan untuk mendatangkan pembalap tersebut.
Pembicaraan itu melibatkan Simon Fuller, perwakilan Hamilton yang melihat potensi kesepakatan tersebut sebagai peluang bisnis berskala besar. Horner menggambarkan bahwa nilai yang dibicarakan jauh dari kesepakatan biasa dalam dunia Formula 1.
Hamilton sudah menjadi figur terkenal pada saat itu. Kemampuannya di lintasan didukung popularitas yang luas, sehingga ia memiliki nilai komersial yang menarik bagi tim maupun sponsor.
Red Bull memahami keuntungan yang mungkin diperoleh jika Hamilton bergabung. Namun, besarnya biaya yang diperlukan membuat tim tidak meneruskan gagasan tersebut dengan upaya maksimal.
Selain persoalan finansial, kemungkinan perubahan keseimbangan internal juga menjadi pertimbangan. Helmut Marko, yang ketika itu berperan sebagai penasihat Red Bull, disebut tidak terlalu menyambut baik ide mendatangkan Hamilton karena hal itu dapat memengaruhi posisi Vettel.
Pada akhirnya, Red Bull tidak menjadi tujuan Hamilton. Tim tersebut tetap melanjutkan proyeknya bersama Vettel, sementara Hamilton memilih membuka lembaran baru dengan Mercedes.
Keputusan Pindah ke Mercedes Mengubah Sejarah Karier Hamilton
Hamilton resmi meninggalkan McLaren setelah musim 2012 dan mulai membalap untuk Mercedes pada 2013. Pada awalnya, keputusan tersebut dipandang sebagai langkah berisiko karena Mercedes belum menunjukkan dominasi yang kemudian menjadi ciri khas mereka.
Akan tetapi, perubahan regulasi mesin pada 2014 menjadi titik balik besar. Mercedes berhasil membangun mobil yang sangat kompetitif dalam era turbo-hibrida, sedangkan Hamilton mampu memaksimalkan keunggulan tersebut untuk meraih gelar juara dunia.
Ia memenangkan enam gelar bersama Mercedes pada 2014, 2015, 2017, 2018, 2019, dan 2020. Prestasi itu melengkapi gelar pertamanya bersama McLaren pada 2008, sehingga total koleksi gelar juara dunianya mencapai tujuh.
Dominasi tersebut juga memperkuat status Hamilton sebagai salah satu pembalap paling berpengaruh dalam sejarah Formula 1. Setelah bertahun-tahun bersama Mercedes, ia kemudian pindah ke Ferrari pada 2025 untuk menghadapi tantangan baru.
Jika Red Bull berhasil merekrutnya pada 2013, Hamilton mungkin akan menjalani era kejayaan bersama tim yang berbeda. Ia juga berpotensi menghadapi Vettel sebagai rekan setim, bukan sebagai pesaing dari tim lain.
Namun, skenario tersebut hanya menjadi kemungkinan yang tidak pernah terwujud. Keputusan yang diambil Hamilton pada akhirnya membawanya menuju periode panjang kesuksesan bersama Mercedes.
Penutup
Kisah yang diungkapkan Christian Horner memperlihatkan bahwa Red Bull pernah memiliki kesempatan untuk merekrut Lewis Hamilton sebelum pembalap tersebut bergabung dengan Mercedes. Pertemuan tertutup bersama Horner dan Adrian Newey menunjukkan bahwa peluang tersebut sempat dipertimbangkan secara serius, meskipun tidak berkembang menjadi kontrak.
Besarnya biaya perekrutan menjadi salah satu faktor utama yang menghambat rencana itu. Pertimbangan mengenai posisi Sebastian Vettel di dalam tim juga membuat potensi duet dua juara dunia tersebut semakin rumit.
Pada akhirnya, Hamilton membangun sebagian besar kesuksesan kariernya bersama Mercedes dan meraih enam gelar juara dunia tambahan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keputusan transfer dalam Formula 1 dapat memengaruhi perjalanan karier pembalap sekaligus mengubah peta persaingan antartim.
Referensi: