Zuckerberg dan Bos AI Ramai Bicara Masa Depan, Mengapa Manifesto Mereka Bermunculan?

Zuckerberg dan Bos AI Ramai Bicara Masa Depan, Mengapa Manifesto Mereka Bermunculan?

Manifesto AI, Image: DALLĀ·E 3--

riau.disway.id - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sedang memasuki fase ketika para pemimpin perusahaan teknologi tidak lagi hanya berlomba membuat model yang lebih pintar. Mereka juga mulai berlomba menjelaskan kepada publik seperti apa masa depan yang menurut mereka akan lahir dari teknologi tersebut.

CEO Meta Mark Zuckerberg menjadi salah satu tokoh terbaru yang ikut dalam tren ini. Ia menerbitkan manifesto sekitar 6.500 kata berjudul "The Future is for Everyone", yang berisi pandangannya mengenai perkembangan AI dan superintelligence.

Fenomena tersebut bukan yang pertama. Sebelumnya, CEO OpenAI Sam Altman menulis "The Intelligence Age", sedangkan CEO Anthropic Dario Amodei menerbitkan "Machines of Loving Grace". Marc Andreessen juga lebih dulu menulis "The Techno-Optimist Manifesto".

Kesamaan dari tulisan-tulisan tersebut adalah adanya keyakinan bahwa AI akan membawa perubahan besar. Namun, di balik optimisme itu terdapat pertanyaan yang lebih penting: mengapa para pemimpin perusahaan teknologi merasa perlu menjelaskan visi mereka secara terbuka?

AI Tidak Lagi Sekadar Produk Teknologi

Salah satu alasannya adalah skala perubahan yang diperkirakan akan ditimbulkan AI.

Teknologi ini sudah digunakan untuk membuat teks, gambar, video, perangkat lunak, melakukan analisis data, hingga membantu berbagai pekerjaan profesional. Kemampuannya juga terus berkembang.

Karena itu, AI mulai dipandang berbeda dari produk teknologi biasa.

Ketika sebuah perusahaan meluncurkan ponsel atau aplikasi baru, dampaknya biasanya dapat diukur dari jumlah pengguna dan keuntungan. Namun, ketika perusahaan mengembangkan AI yang semakin mampu melakukan pekerjaan manusia, dampaknya dapat merambah pasar tenaga kerja, pendidikan, ekonomi, keamanan, bahkan hubungan manusia dengan informasi.

Para CEO perusahaan AI tentu memahami bahwa perkembangan tersebut akan membuat masyarakat, pemerintah, dan investor semakin memperhatikan keputusan mereka.

Manifesto menjadi salah satu cara untuk menjelaskan bagaimana mereka melihat perubahan tersebut.

Zuckerberg Ingin Membentuk Cara Dunia Melihat AI

Dalam "The Future is for Everyone", Zuckerberg menggambarkan masa depan ketika superintelligence dapat membantu manusia menciptakan sesuatu, menemukan pengetahuan baru, meningkatkan kesehatan, dan memperluas kemampuan individu.

Meta juga menekankan gagasan bahwa kemampuan AI yang sangat kuat seharusnya tidak hanya berada di tangan segelintir perusahaan atau institusi.

Pandangan tersebut sekaligus memperlihatkan posisi Meta dalam persaingan AI.

Dengan menyampaikan visi mengenai AI yang lebih luas dan dapat diakses banyak orang, Zuckerberg tidak hanya berbicara tentang masa depan teknologi. Ia juga menjelaskan filosofi yang menjadi dasar strategi Meta.

Sumber utama mengenai gagasan tersebut adalah manifesto Zuckerberg sendiri, "The Future is for Everyone", yang diterbitkan Meta.

Sam Altman Sudah Lebih Dulu Menggambarkan "Intelligence Age"

Zuckerberg bukan satu-satunya CEO teknologi yang menggunakan tulisan panjang untuk membicarakan masa depan.

Sam Altman, CEO OpenAI, sebelumnya menerbitkan "The Intelligence Age". Dalam tulisan tersebut, Altman menggambarkan kemungkinan munculnya era ketika kecerdasan buatan membantu manusia menyelesaikan persoalan yang sebelumnya sangat sulit.

Ia membayangkan AI dapat mempercepat perkembangan berbagai bidang dan meningkatkan kemampuan manusia secara signifikan.

Tulisan tersebut kemudian menjadi salah satu bagian dari narasi OpenAI mengenai perkembangan kecerdasan buatan.

Dengan kata lain, sebelum Zuckerberg berbicara tentang masa depan superintelligence, Altman sudah lebih dahulu mencoba memberikan gambaran mengenai perubahan besar yang mungkin dibawa AI.

Dario Amodei Membawa Perspektif Berbeda

CEO Anthropic Dario Amodei juga menulis manifesto berjudul "Machines of Loving Grace".

Amodei membahas kemungkinan AI yang sangat kuat memberikan dampak besar terhadap berbagai bidang, termasuk kesehatan, biologi, dan ilmu pengetahuan.

Namun, pendekatan Anthropic juga terkenal dengan perhatian besar terhadap keselamatan AI.

Karena itu, tulisan Amodei tidak hanya dapat dibaca sebagai pernyataan optimisme. Ia juga menunjukkan bahwa perusahaan AI harus mempertimbangkan konsekuensi dari teknologi yang semakin kuat.

Perbedaan penekanan tersebut memperlihatkan bahwa manifesto para CEO tidak semuanya identik.

Mereka sama-sama melihat AI sebagai teknologi yang sangat penting, tetapi memiliki cara berbeda dalam menjelaskan manfaat, risiko, dan arah perkembangannya.

Marc Andreessen Memopulerkan Optimisme Teknologi

Tren ini bahkan dapat ditarik lebih jauh.

Pada 2023, Marc Andreessen menerbitkan "The Techno-Optimist Manifesto". Ia menyampaikan pandangan bahwa inovasi merupakan kekuatan penting untuk meningkatkan kehidupan manusia.

Andreessen melihat perkembangan teknologi dengan sangat optimistis. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan kemajuan teknologi dapat menjadi bagian dari solusi berbagai persoalan manusia.

Gagasan tersebut kemudian menjadi salah satu contoh penting dari cara tokoh teknologi menggunakan manifesto untuk memengaruhi perdebatan publik.

Kini, ketika AI berkembang semakin cepat, pendekatan serupa kembali muncul dalam bentuk yang lebih spesifik.

Mengapa Muncul Saat Kekhawatiran AI Meningkat?

Waktu kemunculan manifesto tersebut juga menarik.

Optimisme para CEO hadir ketika kekhawatiran mengenai AI sedang meningkat.

Salah satu persoalan terbesar adalah pekerjaan. Dana Moneter Internasional memperkirakan AI dapat memengaruhi hampir 40 persen pekerjaan secara global. Artinya, perubahan yang dibawa teknologi tersebut bukan sekadar persoalan industri teknologi.

Ada jutaan pekerja yang berpotensi mengalami perubahan terhadap jenis pekerjaan, keterampilan yang dibutuhkan, atau cara pekerjaan dilakukan.

Selain pekerjaan, masyarakat juga mengkhawatirkan penggunaan AI untuk menghasilkan informasi palsu, serangan siber, pelanggaran privasi, serta berbagai bentuk penyalahgunaan lainnya.

Dalam situasi seperti itu, narasi optimistis dari para CEO memiliki fungsi penting.

Mereka berusaha menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak harus berakhir dengan kehancuran pekerjaan atau hilangnya peran manusia.

Zuckerberg bahkan mempertanyakan mengapa seseorang yang yakin AI akan menghapus sebagian besar pekerjaan justru ingin membangun teknologi tersebut.

Manifesto Bisa Menjadi Cara Memenangkan Perdebatan

Ada sisi lain yang tidak kalah penting.

Para CEO perusahaan teknologi tidak berbicara dari posisi netral.

Mereka memimpin perusahaan yang menginvestasikan miliaran dolar dalam pengembangan AI. Masa depan yang mereka gambarkan dapat berhubungan langsung dengan strategi bisnis perusahaan masing-masing.

Karena itu, manifesto juga dapat dipahami sebagai upaya memenangkan perdebatan mengenai bagaimana AI seharusnya dikembangkan.

Misalnya, jika sebuah perusahaan percaya bahwa model AI harus tersedia secara lebih terbuka, perusahaan tersebut memiliki alasan untuk meyakinkan pengembang dan masyarakat bahwa keterbukaan akan menghasilkan manfaat lebih besar.

Sebaliknya, perusahaan yang memilih sistem lebih tertutup dapat menekankan alasan keamanan dan pengendalian risiko.

Perdebatan mengenai keterbukaan AI menjadi semakin penting karena kemampuan model terus berkembang.

Masalahnya, Optimisme Belum Tentu Menjadi Kenyataan

Tulisan para CEO dapat memberikan gambaran menarik mengenai arah pemikiran industri, tetapi bukan berarti semua prediksi di dalamnya pasti terjadi.

Sejarah teknologi menunjukkan bahwa prediksi mengenai masa depan sering kali terlalu optimistis.

Ada teknologi yang diperkirakan akan mengubah dunia tetapi perkembangannya tidak sesuai harapan. Ada pula teknologi yang awalnya dianggap sederhana tetapi kemudian menghasilkan perubahan jauh lebih besar.

Karena itu, manifesto lebih tepat dianggap sebagai visi daripada ramalan.

Zuckerberg, Altman, dan Amodei memiliki kemampuan untuk memengaruhi perkembangan AI, tetapi mereka tidak dapat sepenuhnya menentukan bagaimana teknologi tersebut akhirnya digunakan masyarakat.

Regulasi pemerintah, keputusan perusahaan lain, penelitian ilmiah, kondisi ekonomi, serta respons masyarakat juga akan menentukan hasil akhirnya.

Mengapa Masyarakat Perlu Memperhatikannya?

Meskipun terdengar seperti tulisan panjang dari para miliarder teknologi, manifesto tersebut tetap layak diperhatikan.

Alasannya sederhana. Orang-orang yang menulisnya memiliki pengaruh besar terhadap teknologi yang kemungkinan akan digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Memahami visi mereka membantu masyarakat melihat ke mana perusahaan-perusahaan tersebut ingin membawa AI.

Namun, membaca manifesto sebaiknya tidak berhenti pada bagian optimisme.

Setiap janji mengenai peningkatan produktivitas perlu dibandingkan dengan data mengenai pekerjaan. Setiap klaim mengenai keamanan perlu diuji melalui penelitian. Setiap gagasan mengenai keterbukaan perlu dipertimbangkan bersama risiko penyalahgunaan.

Dengan cara itu, publik tidak hanya menjadi penerima narasi perusahaan teknologi.

AI Kini Menjadi Pertarungan Gagasan

Fenomena manifesto AI menunjukkan bahwa persaingan teknologi sudah berkembang menjadi pertarungan gagasan.

Perusahaan tidak hanya ingin memiliki model AI paling canggih. Mereka juga ingin memengaruhi cara dunia memahami teknologi tersebut.

Zuckerberg ingin menunjukkan masa depan ketika superintelligence dapat memperkuat kemampuan individu. Altman menggambarkan munculnya "Intelligence Age". Amodei membahas kemungkinan perubahan besar yang dapat dibawa AI terhadap ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia.

Sementara itu, kekhawatiran mengenai pekerjaan, keamanan, ketimpangan, dan penyalahgunaan terus menjadi bagian dari perdebatan.

Semua gagasan tersebut akan berhadapan dalam beberapa tahun mendatang.

Penutup

Maraknya manifesto dari para bos teknologi menunjukkan bahwa AI telah berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar persaingan membuat chatbot atau model AI paling pintar.

Para pemimpin perusahaan kini berusaha menjelaskan masa depan yang mereka inginkan sekaligus meyakinkan publik bahwa AI dapat memberikan manfaat besar.

Namun, visi tersebut tetap perlu diuji dengan kenyataan.

Manfaat AI harus dilihat dari dampaknya terhadap pekerjaan, produktivitas, ilmu pengetahuan, kesehatan, keamanan, dan kehidupan masyarakat. Optimisme para CEO dapat menjadi sumber gagasan, tetapi bukti nyata tetap menjadi ukuran paling penting.

Pada akhirnya, masa depan AI tidak akan ditulis oleh satu manifesto saja. Masa depan tersebut akan terbentuk dari keputusan perusahaan, regulasi pemerintah, penelitian ilmiah, dan bagaimana masyarakat memilih menggunakan teknologi yang semakin kuat.

Referensi Yang Digunakan Dalam Artikel

BBC, "Why tech bosses keep sharing their manifestos about AI"

Meta, "The Future is for Everyone"

Sam Altman, "The Intelligence Age"

Anthropic, "Machines of Loving Grace"

Marc Andreessen, "The Techno-Optimist Manifesto"

Sumber: