Selain radar, pilot memperoleh informasi dari pengendali lalu lintas udara, prakiraan meteorologi, laporan pesawat lain, dan layanan cuaca secara langsung. Informasi tersebut digunakan untuk memilih jalur yang dianggap paling aman.
Profesor Guy Gratton dari Cranfield University menilai sistem yang tersedia masih lebih bersifat "taktis daripada strategis". Artinya, radar sangat berguna untuk mengambil keputusan ketika pesawat mendekati badai, tetapi belum selalu memungkinkan maskapai membuat perencanaan akurat sejak awal untuk seluruh perjalanan.
Sel badai dapat muncul, bergerak, dan menguat dalam waktu relatif singkat. Ketika jalur yang sudah direncanakan tiba-tiba tertutup badai, pesawat harus berbelok dan menempuh rute lebih panjang.
Pengalihan tersebut menyebabkan konsumsi bahan bakar bertambah. Maskapai juga mungkin perlu membawa bahan bakar cadangan lebih banyak jika gangguan cuaca diperkirakan meningkat. Namun, tambahan bahan bakar membuat pesawat lebih berat sehingga bahan bakar yang digunakan selama penerbangan juga bertambah.
Analis penerbangan Andrew Charlton mengatakan pesawat harus memperhitungkan kemungkinan terbang lebih jauh. Jika biaya bahan bakar meningkat, pengeluaran tambahan itu pada akhirnya berpotensi dibebankan kepada penumpang.
Ruang Udara Bisa Mengalami Kemacetan
Badai besar dapat menutup sebagian jalur penerbangan meskipun tidak menutup seluruh wilayah udara. Pesawat dari berbagai arah kemudian harus dialihkan menuju koridor yang dinilai aman.
Situasi tersebut dapat menciptakan kemacetan di udara. Pengendali lalu lintas harus mempertahankan jarak aman antarpesawat, sekaligus mengatur urutan kedatangan dan keberangkatan di bandara.
Di kawasan dengan lalu lintas padat seperti Inggris dan Eropa, penutupan satu koridor dapat menimbulkan dampak berantai. Penerbangan yang terlambat tiba akan terlambat berangkat untuk perjalanan berikutnya. Awak pesawat juga memiliki batas jam kerja, sehingga keterlambatan panjang dapat berujung pada pembatalan.
Sejumlah teknologi baru telah digunakan untuk mempertahankan kapasitas bandara ketika cuaca memburuk. Heathrow dan Gatwick, misalnya, menerapkan sistem yang menghitung jarak waktu antarpesawat berdasarkan jenis pesawat dan kecepatan angin.
Sistem tersebut berbeda dari metode lama yang menggunakan batas jarak minimum secara tetap. Penyesuaian secara dinamis memungkinkan pengendali mengatur kedatangan pesawat dengan lebih efisien, terutama ketika angin kencang memperlambat pesawat saat mendekati landasan.
Bandara Juga Menghadapi Ancaman Banjir
Gangguan penerbangan akibat badai tidak hanya terjadi ketika pesawat berada di udara. Curah hujan ekstrem dapat menggenangi landasan pacu, terminal, area parkir pesawat, akses jalan, dan fasilitas pendukung bandara.
Bandara Internasional Dubai mengalami gangguan besar ketika hujan sangat deras melanda Uni Emirat Arab pada April 2024. Landasan pacu sempat ditutup dan gangguan berlangsung selama dua hari. Lebih dari 1.200 penerbangan dibatalkan, sementara puluhan ribu penumpang terdampak.
Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa bandara besar dengan teknologi modern tetap dapat dilumpuhkan oleh cuaca ekstrem. Salah satu masalahnya adalah kapasitas drainase yang dirancang menggunakan catatan curah hujan masa lalu.
Apabila intensitas hujan masa depan melampaui pola historis, sistem drainase mungkin tidak mampu membuang air dengan cukup cepat. Bandara perlu memperbarui standar pembangunan dan memperhitungkan kemungkinan cuaca yang lebih ekstrem.
Adaptasi Menjadi Kebutuhan Industri Penerbangan
Maskapai, bandara, lembaga meteorologi, dan pengelola lalu lintas udara perlu meningkatkan kemampuan menghadapi perubahan kondisi atmosfer. Prakiraan cuaca dengan resolusi lebih tinggi dapat membantu maskapai mendeteksi risiko badai sejak sebelum keberangkatan.
Informasi cuaca yang dibagikan secara langsung antarpesawat juga dapat mempercepat identifikasi turbulensi dan sel badai. Sementara itu, pengelolaan ruang udara yang lebih dinamis dapat membantu pengendali mengurangi penumpukan pesawat ketika sebagian jalur harus ditutup.