Cara tersebut cukup efektif pada pembesaran rendah.
Namun flagship premium dapat memiliki kamera telephoto khusus atau sistem periscope yang memberikan optical zoom dengan focal length lebih panjang.
Secara fisik, cahaya dialihkan melalui susunan lensa di dalam bodi smartphone sehingga produsen dapat memperoleh focal length lebih panjang tanpa membuat modul kamera terlalu tebal.
Teknologi tersebut membutuhkan ruang, desain optik, sensor, dan biaya produksi tambahan.
Inilah salah satu alasan kamera zoom berkualitas tinggi masih lebih banyak ditemukan pada perangkat premium.
Video Juga Menunjukkan Perbedaan Kelas
Foto yang bagus dapat dihasilkan melalui computational photography yang sangat agresif karena sistem memiliki waktu untuk memproses satu gambar.
Video lebih menantang.
Smartphone harus merekam puluhan frame setiap detik sambil mengatur exposure, autofocus, stabilisasi, warna, dynamic range, dan pemrosesan gambar secara bersamaan.
Kemampuan chipset dan sensor menjadi sangat penting.
Flagship karena itu biasanya lebih konsisten ketika digunakan untuk merekam video resolusi tinggi, terutama dalam kondisi cahaya rendah atau ketika kamera banyak bergerak.
Perbedaannya mungkin tidak terlalu penting bagi pengguna biasa, tetapi cukup berarti bagi pembuat konten yang menjadikan smartphone sebagai kamera utama.
AI Mulai Menghapus Batas Antarkelas
Kecerdasan buatan menjadi faktor baru dalam persaingan smartphone.
Fitur seperti menghapus objek dari foto, mencari sesuatu berdasarkan tampilan layar, membuat transkripsi, merangkum informasi, memperbaiki foto, dan menerjemahkan percakapan semakin banyak tersedia.
Menariknya, sebagian kemampuan tersebut tidak hanya diberikan kepada flagship.
Produsen mulai membawa fitur AI ke perangkat kelas menengah karena sebagian pemrosesan dapat dilakukan melalui cloud atau menggunakan NPU yang sudah tersedia pada chipset modern.
Namun kemampuan AI yang sepenuhnya dijalankan secara lokal masih dapat menjadi pembeda.