Dea Anugrah Soroti Tantangan Kebebasan Berpendapat, Kritik Publik Harus Berbasis Data

Kamis 30-07-2026,11:38 WIB
Reporter : Sigit Nugroho
Editor : Sigit Nugroho

Namun, Dea mendorong mahasiswa untuk memperluas bentuk gerakan agar tidak hanya mengandalkan aksi demonstrasi. Keterlibatan langsung dengan masyarakat dapat memperkuat hubungan antara gerakan mahasiswa dan persoalan yang dihadapi publik.

Menurutnya, demonstrasi tetap perlu dirawat sebagai tradisi demokrasi di lingkungan kampus. Akan tetapi, mahasiswa juga memiliki peluang untuk membangun gerakan melalui pendekatan lain yang lebih dekat dengan masyarakat.

Keterlibatan tersebut dapat membuka ruang untuk memahami persoalan secara langsung. Selain itu, mahasiswa dapat mengembangkan aspirasi berdasarkan kebutuhan masyarakat, bukan sekadar merespons isu yang berkembang di ruang publik.

Partisipasi Politik Tak Hanya di Media Sosial

Dea menilai partisipasi politik memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada aktivitas di media sosial. Demonstrasi juga bukan satu-satunya cara masyarakat menyuarakan kepentingan dan melakukan pengawasan terhadap kebijakan publik.

Dialog langsung dapat menjadi salah satu cara untuk mempertemukan berbagai pandangan. Pertukaran pengetahuan juga membantu masyarakat memahami persoalan secara lebih utuh sebelum menentukan sikap.

Selain itu, pengorganisasian aspirasi masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat partisipasi politik. Cara tersebut memungkinkan suara publik tersusun secara lebih terarah dan memiliki basis persoalan yang jelas.

Pada akhirnya, kebebasan berpendapat membutuhkan keberanian sekaligus tanggung jawab. Masyarakat perlu menjaga hak menyampaikan pandangan dengan mengedepankan verifikasi, data, argumentasi, serta keterlibatan langsung dalam kehidupan sosial.

Dengan pendekatan tersebut, ruang demokrasi dapat berkembang secara lebih sehat. Kritik pun tidak berhenti sebagai reaksi sesaat, tetapi dapat menjadi instrumen untuk mendorong evaluasi dan perbaikan kebijakan publik. (*)

Kategori :