7 Manfaat Berbuat Baik bagi Kesehatan Mental yang Jarang Disadari

7 Manfaat Berbuat Baik bagi Kesehatan Mental yang Jarang Disadari

berbuat baik, Imag: Pexels / Pixabay--

 

riau.disway.id - Berbuat baik kepada orang lain bukan hanya memberikan manfaat bagi penerimanya, tetapi juga dapat membawa dampak positif bagi kesehatan mental orang yang melakukannya. Tindakan sederhana seperti membantu tetangga, mendengarkan keluh kesah teman, memberikan dukungan kepada keluarga, atau menyisihkan waktu untuk kegiatan sosial dapat membantu seseorang merasa lebih bahagia dan memiliki hubungan sosial yang lebih bermakna.

Dalam psikologi, perilaku semacam ini berkaitan dengan perilaku prososial, yaitu tindakan yang bertujuan memberikan manfaat bagi orang lain. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perilaku prososial dapat berhubungan dengan kesejahteraan psikologis, kepuasan hidup, dan kualitas hubungan sosial. Meski demikian, dampaknya tidak selalu sama pada setiap orang karena dipengaruhi oleh kondisi emosional, motivasi, serta situasi yang dihadapi.

Lantas, apa saja manfaat berbuat baik bagi kesehatan mental yang jarang disadari?

1. Membantu Mengurangi Stres

Salah satu manfaat berbuat baik adalah membantu seseorang menghadapi stres dengan lebih baik. Ketika seseorang memberikan bantuan kepada orang lain, perhatiannya dapat beralih sejenak dari masalah pribadi menuju tindakan yang bermanfaat. Hal ini dapat memberikan perspektif baru terhadap persoalan yang sedang dihadapi.

Misalnya, membantu teman menyelesaikan pekerjaan, menemani anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan, atau melakukan kegiatan sukarela dapat memberikan perasaan bahwa dirinya masih mampu melakukan sesuatu yang berarti.

Dalam beberapa penelitian psikologi, perilaku menolong dikaitkan dengan kesejahteraan emosional yang lebih baik. Namun, berbuat baik bukan pengganti penanganan medis atau psikologis ketika stres sudah berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Manfaat ini juga perlu dipahami secara proporsional. Membantu orang lain sambil mengabaikan kebutuhan diri sendiri justru dapat menambah tekanan. Karena itu, kebaikan yang sehat tetap perlu disertai kemampuan mengenali batas tenaga, waktu, dan kondisi emosional pribadi.

2. Meningkatkan Perasaan Bahagia

Berbuat baik dapat memberikan perasaan senang karena seseorang mengetahui bahwa tindakannya membawa manfaat bagi orang lain. Perasaan ini dapat muncul setelah memberikan bantuan kecil, menghibur seseorang yang sedang bersedih, atau melihat orang lain berhasil mengatasi kesulitannya.

Dalam psikologi, pengalaman positif yang muncul setelah melakukan tindakan baik terkadang disebut helper's high. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan perasaan positif yang dapat muncul setelah seseorang menolong orang lain.

Dari sudut pandang ilmu saraf, perilaku sosial dan tindakan yang dianggap bermanfaat dapat melibatkan sistem penghargaan di otak. Sistem ini berperan dalam memproses pengalaman yang menyenangkan dan memotivasi seseorang untuk mengulangi perilaku tertentu.

Meskipun demikian, bukan berarti setiap tindakan baik selalu menghasilkan lonjakan hormon tertentu atau membuat seseorang langsung merasa bahagia. Respons setiap individu berbeda-beda. Kebaikan tetap bernilai meskipun tidak selalu diikuti perasaan senang secara langsung.

3. Membantu Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Berbuat baik juga dapat membantu seseorang menyadari bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk memberikan pengaruh positif terhadap lingkungan. Ketika bantuan yang diberikan berhasil meringankan beban orang lain, muncul kesempatan untuk melihat diri sendiri sebagai pribadi yang mampu berkontribusi.

Contohnya, seseorang yang membantu rekan kerja memahami tugas, mengajari anak belajar, atau mendampingi orang yang sedang kesulitan dapat merasakan bahwa keterampilan dan pengalamannya memiliki nilai bagi orang lain.

Pengalaman tersebut dapat memperkuat rasa mampu dan penghargaan terhadap diri sendiri. Hal ini terutama terasa ketika seseorang sebelumnya merasa tidak berguna atau meragukan kemampuannya dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Sumber: