Sebelum Mengirim Foto dan Dokumen ke AI, Pahami Risiko Privasi Ini

Sebelum Mengirim Foto dan Dokumen ke AI, Pahami Risiko Privasi Ini

AI, Ilustrasi: DALLĀ·E 3--

 

riau.disway.id - Banyak orang menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk membaca dokumen, mengenali tulisan dalam foto, merangkum percakapan, hingga membantu menyelesaikan pekerjaan. Kemudahan tersebut membuat pengguna sering mengunggah berbagai berkas tanpa memeriksa informasi apa saja yang ikut terkirim. Padahal, sebuah foto atau dokumen bisa memuat data pribadi yang tidak diperlukan untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Risiko privasi tidak hanya berkaitan dengan kemungkinan kebocoran data. Pengguna juga perlu memahami siapa yang mengelola informasi, berapa lama data disimpan, apakah percakapan dapat digunakan untuk meningkatkan model, dan bagaimana informasi tersebut dapat dihapus. Dengan memahami hal-hal ini, pengguna bisa memanfaatkan AI tanpa menyerahkan informasi lebih banyak daripada yang dibutuhkan.

1. Satu Foto Bisa Mengungkap Lebih Banyak daripada yang Terlihat

Ketika mengunggah foto ke AI, pengguna mungkin hanya ingin mengetahui jenis barang, membaca tulisan, atau memperbaiki kualitas gambar. Namun, foto tersebut bisa memuat informasi tambahan yang tidak disadari.

Sebagai contoh, seseorang mengunggah foto meja kerja untuk meminta saran menata ruangan. Di sudut foto, mungkin terdapat kartu identitas, surat dengan alamat rumah, layar komputer yang menampilkan pesan pribadi, atau dokumen pekerjaan. Informasi tersebut ikut masuk ke dalam gambar yang dikirimkan.

Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang mengunggah foto kartu keluarga, tiket perjalanan, bukti transfer, atau paket kiriman. Selain informasi utama, berkas tersebut dapat memperlihatkan nama lengkap, nomor identitas, alamat, nomor rekening, dan informasi lain yang seharusnya tidak dibagikan sembarangan.

Karena itu, sebelum mengirim foto ke AI, periksa seluruh bagian gambar. Potong bagian yang tidak relevan atau tutupi informasi pribadi menggunakan alat penyunting gambar. Jangan hanya mengandalkan permintaan kepada AI untuk mengabaikan informasi tertentu karena data tersebut sudah telanjur dikirimkan ke layanan.

2. Informasi yang Dikirim Tidak Selalu Langsung Dihapus

Ada anggapan bahwa data yang dimasukkan ke AI hanya digunakan untuk menjawab pertanyaan, kemudian langsung hilang setelah jawaban diberikan. Kenyataannya, pengelolaan data bergantung pada kebijakan dan sistem setiap penyedia layanan.

Layanan AI dapat menyimpan riwayat percakapan agar pengguna dapat mengaksesnya kembali. Data tertentu juga dapat dipertahankan untuk keperluan operasional, keamanan, atau kewajiban hukum. Jangka waktu penyimpanan dan mekanisme penghapusannya tidak selalu sama.

National Institute of Standards and Technology (NIST), melalui Artificial Intelligence Risk Management Framework, menekankan pentingnya mengidentifikasi dan mengelola risiko yang berkaitan dengan penggunaan AI. Dalam praktiknya, pengelolaan risiko tersebut mencakup perhatian terhadap data, keamanan sistem, serta dampak penggunaan teknologi terhadap individu dan organisasi.

Bagi pengguna, langkah yang paling relevan adalah membaca kebijakan privasi dan memahami pengaturan penyimpanan data. Jika sebuah layanan menyediakan fitur percakapan sementara, periksa pula batasan fitur tersebut. Percakapan yang tidak muncul dalam riwayat belum tentu berarti seluruh data langsung dihapus dari sistem.

3. Data Bisa Digunakan untuk Meningkatkan Kemampuan AI

Salah satu hal yang sering terlewat adalah kemungkinan penggunaan percakapan untuk meningkatkan kualitas model AI. Kebijakan ini berbeda-beda berdasarkan penyedia, jenis akun, dan pengaturan yang berlaku.

Pada layanan tertentu, konten pengguna dapat digunakan untuk melatih atau menyempurnakan model. Pada layanan lain, pengguna dapat memilih untuk menonaktifkan penggunaan percakapan baru untuk tujuan tersebut. Produk bisnis juga bisa memiliki ketentuan pengelolaan data yang berbeda dari produk konsumen.

Penting untuk membedakan pelatihan model dari penyimpanan data. Ketika sebuah percakapan digunakan untuk meningkatkan model, hal itu tidak otomatis berarti seluruh isinya akan diingat secara persis atau ditampilkan kepada pengguna lain. Namun, pengguna tetap perlu mengetahui bagaimana penyedia layanan memproses konten yang dikirimkan.

Sebagai contoh, jika seseorang mengunggah laporan pelanggan untuk meminta ringkasan, ia perlu memastikan bahwa layanan yang digunakan sesuai dengan aturan kerahasiaan data pelanggan. Jika informasi tersebut bersifat rahasia, menghapus nama saja belum tentu cukup apabila isi dokumen masih memungkinkan seseorang dikenali.

Sumber: