Krisis Air Turki Mengancam Lahan Basah dan Burung Migrasi
Migrasi Burung, Ilustrasi: DALL·E 3--
fin.co.id - Krisis air di Turki kini tidak hanya terlihat dari danau yang menyusut, tetapi juga dari masa depan lahan basah yang selama ini menjadi tempat singgah burung migran dunia. Di wilayah timur negara itu, air yang makin terbatas harus diperebutkan oleh kebutuhan rumah tangga, pertanian, peternakan, pembangunan, dan ekosistem. Dalam persaingan tersebut, habitat alami sering berada pada posisi paling rentan.
Laporan BBC Future menyebut 186 dari sekitar 240 danau di Turki telah mengering. Angka itu menggambarkan tekanan besar terhadap sistem air tawar negara tersebut, khususnya ketika banyak kawasan menghadapi risiko kekeringan dan penggurunan. Di balik statistik tersebut, terdapat ancaman terhadap jalur migrasi yang menghubungkan Afrika, Eropa, Kaukasus, hingga Eurasia.
Burung tidak mengenal batas negara, tetapi perjalanan mereka sangat bergantung pada danau, rawa, dan tepian sungai yang tersebar di sepanjang rute. Bila satu lokasi utama kehilangan air atau terganggu oleh pembangunan, perjalanan lintas benua itu ikut terdampak.
Air yang Menyusut di Tengah Kebutuhan Manusia
Danau Kuyucuk di dekat perbatasan Armenia memperlihatkan bagaimana sebuah ekosistem dapat berubah dalam waktu singkat. Pada 1997, kedalaman danau ini dilaporkan mencapai 13 meter. Saat peneliti Cagan Hakki Sekercioğlu mulai bekerja di kawasan itu, kedalamannya sudah berkurang menjadi sekitar 4,5 meter. Pada 2010, titik terdalam yang tersisa hanya sekitar satu meter.
Penurunan air Danau Kuyucuk bukan terjadi karena satu penyebab tunggal. Sejumlah bendungan kecil menghambat aliran sungai yang semestinya memasok danau, karena air dialihkan untuk ternak. Pengambilan air tanah melalui sumur-sumur ilegal ikut memperbesar masalah. Ketika curah hujan berkurang dan kebutuhan air meningkat, cadangan di danau serta akuifer menjadi semakin sulit pulih.
Sekercioğlu dan timnya pernah mengupayakan pemompaan air dari sumur untuk mempertahankan danau. Ia menggambarkan langkah itu seperti kemoterapi, yakni tindakan penyelamatan darurat yang membantu mempertahankan kondisi, tetapi tidak mengatasi sumber persoalan. Upaya yang lebih mendasar dilakukan dengan mengajak warga membongkar bendungan ilegal agar aliran ke danau dapat kembali terbuka.
Hasilnya belum membuat Kuyucuk kembali seperti dulu. Namun, kawasan itu masih bertahan sebagai lahan basah dan belum sepenuhnya menjadi area kering berdebu. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan ekosistem membutuhkan pengelolaan air yang konsisten, bukan sekadar tindakan sementara ketika kerusakan sudah terjadi.
Jalur Migrasi Berisiko Terputus
Turki timur memiliki arti penting bagi burung yang bermigrasi. Di sekitar Danau Aktas, yang terletak di perbatasan Turki-Georgia, dapat ditemukan beragam spesies burung air. Danau ini juga disebut sebagai lokasi terakhir di Turki yang masih didatangi pelikan Dalmatia dan pelikan putih besar secara bersamaan.
Kawasan tersebut berada di jalur migrasi Kaukasus-Eurasia. Data pemantauan burung penting untuk menunjukkan jenis burung yang datang, kapan mereka bergerak, dan bagaimana kondisi fisik mereka berubah dari tahun ke tahun. Di Stasiun Pemantauan Burung Aras, relawan menangkap burung menggunakan metode yang dirancang agar aman, memasang cincin penanda, melakukan pengukuran, lalu melepaskannya kembali ke alam.
Pemantauan semacam itu memberikan bukti ilmiah bahwa lahan basah bukan ruang kosong yang dapat digantikan begitu saja. Burung memerlukan lokasi yang menyediakan makanan, perlindungan, dan air pada waktu yang tepat. Hilangnya satu danau mungkin tidak langsung terlihat dalam kehidupan sehari-hari manusia, tetapi dapat mengurangi pilihan aman bagi kawanan yang harus terbang ribuan kilometer.
Bendungan Baru Memunculkan Kekhawatiran
Tekanan terhadap ekosistem tidak hanya berasal dari kekeringan dan pengambilan air. Pekerjaan awal proyek Bendungan Penyimpanan Tuzluca di sekitar Sungai Aras juga memunculkan kekhawatiran baru. Kelompok konservasi KuzeyDoğa Derneği menilai proyek itu berpotensi mengubah kawasan lahan basah yang menjadi lokasi penting bagi burung migrasi, termasuk area stasiun pemantauan.
Pemerintah daerah menyatakan kajian lingkungan telah dilakukan dan menyebut adanya rencana membangun pulau buatan untuk satwa. Akan tetapi, kelompok konservasi mempertanyakan apakah pengganti buatan dapat menjalankan fungsi yang sama dengan habitat alami. Perubahan aliran air, kedalaman, vegetasi, dan pola makanan dapat memengaruhi spesies dengan cara yang tidak selalu mudah dipulihkan.
Perdebatan ini menunjukkan perlunya perencanaan pembangunan yang menempatkan ilmu pengetahuan sebagai dasar keputusan. Infrastruktur memang dapat mendukung kebutuhan masyarakat, tetapi desain dan lokasinya perlu mempertimbangkan jalur air serta kawasan bernilai tinggi bagi keanekaragaman hayati.
Penutup
Danau-danau yang mengering di Turki adalah peringatan bahwa krisis iklim dan krisis pengelolaan air dapat bertemu dalam satu masalah yang sama. Pengambilan air berlebihan, bendungan kecil, sumur ilegal, dan proyek infrastruktur dapat mempercepat kerusakan ketika kondisi alam sudah semakin kering.
Sumber: