Badai Makin Intens, Penerbangan Dunia Terancam Lebih Sering Tertunda
Penerbangan, Ilustrasi: DALLĀ·E 3--
riau.disway.id - Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada kehidupan di daratan, tetapi juga dapat mengubah cara pesawat beroperasi di udara. Atmosfer yang makin hangat diperkirakan menciptakan kondisi lebih mendukung bagi terbentuknya badai kuat di sejumlah wilayah, terutama kawasan lintang tinggi di Belahan Bumi Utara.
Dampaknya terhadap penerbangan tidak selalu berupa kecelakaan atau kerusakan pesawat. Gangguan yang lebih mungkin dirasakan penumpang adalah perubahan rute, waktu tempuh lebih lama, penundaan keberangkatan, pembatalan penerbangan, dan kemungkinan kenaikan harga tiket.
Pesawat modern memang dirancang agar mampu menghadapi cuaca buruk. Namun, pilot tetap akan menghindari awan badai karena turbulensi, hujan es, petir, dan perubahan arah angin di dalamnya dapat berkembang secara cepat serta sulit diprediksi.
Perubahan Iklim Menambah Energi di Atmosfer
Udara hangat dapat menyimpan lebih banyak uap air dibandingkan udara dingin. Berdasarkan hubungan fisika atmosfer Clausius-Clapeyron, kemampuan atmosfer menyimpan uap air meningkat sekitar 7 persen setiap kali suhu naik 1 derajat Celsius.
Tambahan uap air tersebut tidak secara otomatis menghasilkan badai. Pembentukannya tetap memerlukan kombinasi kelembapan, ketidakstabilan atmosfer, gerakan udara ke atas, dan pola angin tertentu.
Namun, ketika seluruh unsur itu tersedia, atmosfer yang lebih hangat dapat menyediakan energi serta kelembapan tambahan bagi perkembangan awan cumulonimbus. Awan ini dapat menghasilkan hujan lebat, angin kencang, sambaran petir, hujan es, dan arus udara vertikal yang sangat kuat.
Kantor Meteorologi Inggris atau Met Office menjelaskan bahwa jumlah badai petir secara keseluruhan belum tentu bertambah. Akan tetapi, badai yang terbentuk dapat memberikan dampak lebih serius.
"Meskipun kita mungkin tidak melihat lebih banyak badai petir secara keseluruhan, badai yang terjadi dapat memberikan dampak lebih besar," demikian penjelasan Met Office.
Peningkatan risikonya juga tidak akan sama di setiap tempat. Sebagian wilayah mungkin mengalami lebih banyak kondisi yang mendukung badai, sedangkan wilayah lain dapat mengalami perubahan pola hujan atau bahkan penurunan frekuensi badai.
Pilot Tidak Dapat Mengandalkan Kekuatan Pesawat Saja
Pesawat komersial dibuat dengan standar keselamatan yang ketat. Struktur badan, sayap, kaca kokpit, mesin, dan sistem elektroniknya menjalani pengujian sebelum diizinkan membawa penumpang.
Meskipun demikian, prosedur penerbangan tidak mengandalkan kekuatan struktur pesawat sebagai satu-satunya perlindungan. Menghindari badai tetap menjadi pilihan paling aman.
Di dalam awan cumulonimbus, arus udara dapat bergerak naik dan turun dengan kecepatan tinggi. Pesawat yang melintasinya berisiko mengalami perubahan ketinggian dan percepatan secara mendadak. Kondisi inilah yang dapat menyebabkan penumpang atau awak kabin terlempar apabila tidak mengenakan sabuk pengaman.
Hujan es juga menjadi ancaman serius. Butiran es berukuran besar yang menghantam pesawat dalam kecepatan tinggi dapat merusak bagian depan badan pesawat, hidung radar, permukaan sayap, kaca kokpit, dan komponen mesin.
Petir umumnya tidak menyebabkan kecelakaan pada pesawat modern karena badan pesawat dirancang untuk menyalurkan arus listrik. Namun, sambaran petir tetap dapat memicu pemeriksaan teknis setelah pesawat mendarat. Pemeriksaan tersebut berpotensi menambah waktu tunggu dan mengganggu jadwal penerbangan berikutnya.
Perubahan Rute Menambah Konsumsi Bahan Bakar
Sumber: