Ambisi Australia Menjadi Pusat AI Dunia Dibayangi Beban Air dan Energi
Sistem Pendingin AI, Ilustrasi: DALLĀ·E 3--
riau.disway.id - Australia sedang berlomba memperkuat posisinya dalam industri kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Salah satu jalannya adalah mempercepat pembangunan pusat data berukuran besar di berbagai wilayah. Infrastruktur ini dibutuhkan untuk menyimpan data, menjalankan layanan cloud, serta menyediakan daya komputasi bagi model AI yang semakin kompleks.
Di balik peluang investasi dan pertumbuhan ekonomi digital, muncul pertanyaan besar: apakah pasokan air dan listrik Australia cukup untuk mendukung ledakan pusat data AI? Kekhawatiran itu menguat karena sebagian fasilitas baru direncanakan dekat kawasan permukiman, sementara Australia juga menghadapi risiko kekeringan dan kebutuhan transisi dari energi fosil.
Pusat Data Menjadi Tulang Punggung AI
Pusat data adalah bangunan yang berisi ribuan hingga jutaan komponen komputasi, seperti server, penyimpanan data, perangkat jaringan, dan kartu grafis atau GPU. Dalam era AI generatif, GPU menjadi komponen sangat penting karena mampu mengolah miliaran perhitungan secara paralel.
Saat seseorang membuat gambar, meminta AI menulis teks, menerjemahkan dokumen, atau menjalankan pencarian berbasis AI, permintaan tersebut diproses di dalam pusat data. Semakin banyak pengguna dan semakin rumit model AI yang digunakan, semakin besar pula daya komputasi yang harus tersedia.
Australia kini memiliki sekitar 162 pusat data. Selain itu, puluhan proyek baru juga sedang disiapkan dengan nilai investasi sangat besar. Kawasan Sydney bagian barat menjadi salah satu titik utama ekspansi karena memiliki lahan industri, konektivitas jaringan, dan akses menuju pasar digital yang besar.
Pemerintah serta industri memandang pembangunan ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Tanpa infrastruktur lokal, Australia dikhawatirkan hanya menjadi pasar pengguna AI yang bergantung pada layanan dari luar negeri. Dengan pusat data sendiri, negara tersebut dapat menarik perusahaan teknologi, membangun keahlian digital, serta memberi ruang bagi perusahaan AI lokal untuk berkembang.
Listrik dalam Jumlah Sangat Besar
Tantangan paling nyata dari pusat data adalah kebutuhan listrik yang terus-menerus. Tidak seperti gedung perkantoran biasa, server di pusat data harus beroperasi siang dan malam tanpa jeda. Gangguan listrik beberapa detik saja dapat memengaruhi layanan perbankan, komunikasi, transportasi, kesehatan, hingga sistem bisnis.
Australian Energy Market Operator memperkirakan permintaan listrik dari pusat data dapat meningkat hingga tiga kali lipat secara nasional pada 2030. Angka ini menunjukkan bahwa pertumbuhan AI tidak hanya berkaitan dengan aplikasi di layar ponsel, tetapi juga memerlukan pembangkit listrik, kabel transmisi, gardu induk, serta baterai penyimpanan energi dalam skala besar.
Salah satu proyek yang direncanakan di Sydney bagian barat disebut memiliki kapasitas hingga satu gigawatt. Jika terwujud, fasilitas tersebut akan menjadi salah satu pengguna energi tunggal terbesar di Australia.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa kebutuhan pusat data dapat memperpanjang penggunaan pembangkit gas dan batu bara. Energi angin serta surya memang semakin berkembang, tetapi produksinya bergantung pada kondisi cuaca dan waktu. Pusat data tidak bisa mengurangi kinerja saat malam hari atau ketika angin melemah.
Karena alasan tersebut, sistem penyimpanan energi dan jaringan listrik yang stabil menjadi sangat penting. Tanpa investasi energi terbarukan yang memadai, beban pusat data dikhawatirkan meningkatkan harga listrik bagi rumah tangga dan pelaku usaha kecil.
Air Dipakai untuk Mengendalikan Panas Server
Selain listrik, air menjadi sumber daya penting bagi pusat data. Server dan GPU AI menghasilkan panas tinggi ketika bekerja. Jika suhu tidak dikendalikan, komponen dapat melambat, mengalami kerusakan, atau bahkan berhenti beroperasi demi keselamatan.
Dalam sistem pendinginan cairan, air atau cairan khusus dialirkan melalui pipa menuju pelat pendingin yang dipasang dekat GPU. Cairan tersebut menyerap panas dari komponen, lalu mengalir ke penukar panas. Di titik itu, panas dipindahkan ke sistem pendingin lain sebelum cairan kembali bersirkulasi ke server.
Sistem ini tidak berarti air menyentuh kartu grafis secara langsung. Air berada di dalam pipa dan unit pendingin tertutup. Namun, pada fasilitas berskala besar, sistem pendinginan tetap dapat menggunakan air dalam jumlah sangat besar, khususnya bila memakai menara pendingin yang melepaskan sebagian air sebagai uap.
Sumber: