Tidak Mau Pakai AI di Kantor? Ini Risiko yang Bisa Menghambat Karier Pekerja
AI, Image: DALLĀ·E 3--
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara banyak pekerjaan dilakukan. Dari membuat dokumen, menganalisis data, mencari informasi, sampai membantu menyusun ide, berbagai tugas yang sebelumnya dikerjakan secara manual kini dapat dibantu AI.
Kondisi ini membuat kemampuan menggunakan AI semakin relevan bagi pekerja. Bukan berarti setiap orang harus menyerahkan pekerjaannya kepada AI, tetapi memahami teknologi tersebut dapat menjadi bagian dari kemampuan beradaptasi di dunia kerja.
World Economic Forum (WEF) memperkirakan hampir 40 persen keterampilan yang dibutuhkan dalam pekerjaan akan berubah hingga 2030. Keterampilan AI, big data, serta teknologi lainnya termasuk yang diproyeksikan mengalami peningkatan permintaan paling cepat.
Yang Berubah Bukan Hanya Pekerjaan, Tetapi Cara Bekerja
Perubahan akibat AI tidak selalu berarti sebuah profesi langsung hilang.
International Labour Organization (ILO) menemukan bahwa generative AI lebih berpotensi mengubah tugas-tugas tertentu dalam sebuah pekerjaan daripada menggantikan seluruh pekerjaan tersebut. Artinya, seorang pekerja tetap menjalankan profesinya, tetapi sebagian proses yang sebelumnya dilakukan secara manual dapat dibantu teknologi.
Contohnya dapat dilihat pada pekerjaan kantor.
Seorang staf dapat menggunakan AI untuk membuat draf email, merangkum laporan panjang, mengelompokkan informasi, atau menyusun ide presentasi. Pekerja tetap perlu memeriksa hasilnya sebelum digunakan.
Di sinilah kemampuan menggunakan AI mulai memiliki nilai.
Pekerja yang Mengabaikan AI Bisa Kehilangan Keunggulan Produktivitas
Salah satu risiko terbesar bagi pekerja yang sama sekali tidak mau mempelajari AI adalah perbedaan produktivitas.
Bayangkan dua pekerja mendapatkan tugas yang sama. Pekerja pertama mengerjakan seluruh proses secara manual. Pekerja kedua menggunakan AI untuk membantu pekerjaan awal, kemudian melakukan pemeriksaan dan penyempurnaan sendiri.
Jika hasil akhirnya sama-sama berkualitas, pekerja kedua berpotensi menyelesaikan tugas dalam waktu lebih singkat.
Keuntungan tersebut tidak selalu berarti pekerja pertama langsung kehilangan pekerjaannya. Namun, dalam lingkungan kerja yang mengejar efisiensi, kemampuan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dapat menjadi nilai tambah.
Inilah alasan mengapa kemampuan AI mulai dipandang sebagai bagian dari keterampilan kerja, bukan sekadar kemampuan tambahan untuk penggemar teknologi.
AI Tidak Bisa Menggantikan Semua Kemampuan Manusia
Meski demikian, pekerja tidak perlu berpikir bahwa AI akan mengambil alih semua pekerjaan.
ILO dalam penelitian terbarunya yang terbit pada Juni 2026 menyebut bahwa bukti empiris menunjukkan peningkatan produktivitas dari generative AI memang ada, tetapi manfaatnya masih tidak merata. Penggantian pekerjaan dalam skala besar juga masih terbatas.
Masalahnya justru bisa muncul pada perubahan isi pekerjaan.
AI dapat mengerjakan sebagian tugas yang bersifat rutin, sementara manusia semakin diarahkan pada pekerjaan yang membutuhkan penilaian, komunikasi, koordinasi, kreativitas, dan tanggung jawab.
Karena itu, pekerja tidak cukup hanya mengetahui cara memakai AI. Mereka juga harus mempertahankan keahlian profesional yang membuat hasil AI dapat digunakan dengan benar.
Pekerjaan Administratif Termasuk yang Perlu Diwaspadai
Tidak semua pekerjaan memiliki tingkat paparan yang sama terhadap AI.
ILO menemukan bahwa pekerjaan administratif dan clerical termasuk kelompok yang memiliki tingkat paparan tinggi terhadap generative AI. Dalam kajian mereka, sekitar 24 persen tugas clerical dikategorikan memiliki paparan tinggi dan 58 persen lainnya memiliki paparan menengah.
Ini bukan berarti seluruh pekerjaan administrasi akan hilang.
Namun, tugas seperti memasukkan data, membuat dokumen sederhana, mengelompokkan informasi, atau pekerjaan rutin lainnya lebih mudah mendapatkan bantuan dari sistem otomatis.
Karena itu, pekerja di bidang tersebut dapat memperoleh manfaat besar jika mulai mengembangkan kemampuan yang lebih sulit diotomatisasi.
Skill Manusia Tetap Menjadi Modal Penting
Menariknya, WEF tidak hanya menempatkan kemampuan teknologi sebagai keterampilan masa depan.
Kemampuan berpikir analitis, kreativitas, fleksibilitas, ketahanan, kepemimpinan, dan kolaborasi juga tetap dianggap penting. WEF bahkan menilai kombinasi antara keterampilan teknologi dan kemampuan manusia akan semakin dibutuhkan.
Dengan kata lain, pekerja ideal di masa depan bukan manusia yang mencoba bekerja seperti AI.
Justru manusia yang mampu menggunakan AI sebagai alat bantu sambil mempertahankan kemampuan berpikir dan mengambil keputusan akan memiliki posisi yang lebih kuat.
Tidak Harus Menjadi Ahli AI
Ada kesalahpahaman bahwa belajar AI berarti seseorang harus memahami pemrograman atau membangun model kecerdasan buatan sendiri.
Padahal, kebutuhan sebagian besar pekerja jauh lebih sederhana.
Mereka perlu mengetahui bagaimana memberikan instruksi yang jelas kepada AI, bagaimana menggunakan AI untuk tugas tertentu, bagaimana memeriksa jawaban yang dihasilkan, serta bagaimana menjaga informasi perusahaan agar tidak sembarangan dimasukkan ke layanan AI.
Kemampuan tersebut dapat disebut sebagai literasi AI.
Seorang akuntan tidak harus menjadi programmer untuk memanfaatkan AI. Seorang guru tidak harus membangun model bahasa sendiri. Begitu pula seorang staf pemasaran tidak perlu memahami seluruh teknologi di balik chatbot untuk menggunakannya sebagai alat bantu.
Yang penting adalah memahami kemampuan dan keterbatasannya.
Menolak AI Berbeda dengan Menggunakan AI Secara Bijak
Ada perbedaan besar antara tidak menggunakan AI untuk tugas tertentu dan menolak mempelajarinya sama sekali.
Pekerja bisa saja memilih tidak menggunakan AI untuk pekerjaan yang membutuhkan kerahasiaan tinggi. Perusahaan juga mungkin memiliki aturan yang membatasi penggunaan AI karena alasan keamanan data.
Pilihan tersebut tidak otomatis membuat seseorang tertinggal.
Yang menjadi masalah adalah ketika seorang pekerja tidak mau mengetahui perubahan teknologi yang sudah memengaruhi industrinya.
ILO sendiri mengingatkan bahwa indikator paparan AI tidak boleh dianggap sebagai ramalan langsung mengenai kehilangan pekerjaan. Dampak akhirnya sangat bergantung pada bagaimana teknologi tersebut diterapkan dan bagaimana organisasi mengatur perubahan pekerjaan.
Adaptasi Bisa Menjadi Pembeda Karier
Perubahan teknologi pada akhirnya membuat pekerja perlu terus belajar.
WEF memperkirakan 59 dari setiap 100 pekerja akan membutuhkan reskilling atau upskilling hingga 2030. Di sisi lain, 77 persen pemberi kerja yang disurvei menyatakan berencana melakukan upskilling terhadap pekerja sebagai respons terhadap perubahan teknologi dan AI.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi akan semakin penting.
Pekerja tidak harus langsung menggunakan AI untuk seluruh pekerjaannya. Langkah yang lebih realistis adalah mulai dari tugas sederhana yang memang bisa dibantu teknologi.
Setelah memahami manfaat dan risikonya, penggunaannya dapat diperluas secara bertahap.
Jadi, Apakah Pekerja yang Ogah Pakai AI Bakal Tertinggal?
Jawabannya tidak otomatis.
Seseorang masih bisa memiliki karier yang baik tanpa menggunakan AI dalam setiap aktivitas pekerjaannya. Namun, jika seseorang menolak mempelajari AI ketika teknologi tersebut mulai menjadi bagian penting dari industrinya, risiko kehilangan daya saing dapat meningkat.
Persaingan di dunia kerja bukan hanya antara manusia dan AI.
Persaingan juga dapat terjadi antara pekerja yang mampu memanfaatkan AI dengan pekerja yang mengerjakan tugas yang sama tanpa memanfaatkan alat tersebut.
Karena itu, pilihan yang paling aman bukan menjadi sepenuhnya bergantung pada AI, tetapi memahami bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan untuk memperkuat kemampuan manusia.
Penutup
AI tidak serta-merta membuat pekerja kehilangan pekerjaan. Bukti terbaru justru menunjukkan bahwa dampak yang lebih umum adalah perubahan terhadap tugas dan cara pekerjaan dilakukan.
Namun, perubahan tersebut membuat kemampuan beradaptasi semakin penting.
Pekerja yang mau mempelajari AI memiliki kesempatan untuk menghemat waktu, meningkatkan produktivitas, dan mengembangkan keterampilan baru. Sementara itu, pekerja yang sama sekali menolak memahami teknologi tersebut berpotensi kehilangan peluang ketika AI menjadi bagian dari standar kerja di industrinya.
Pada akhirnya, masa depan dunia kerja kemungkinan bukan tentang manusia melawan AI. Yang lebih menentukan adalah seberapa baik manusia menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pekerjaannya.
Referensi
The Future of Jobs Report 2025, World Economic Forum
Generative AI and Jobs: A Refined Global Index of Occupational Exposure, International Labour Organization
The Impact of GenAI on Jobs, Productivity and Work Organization: A Review of the Empirical Evidence, International Labour Organization
Artificial Intelligence Adoption and Its Impact on Jobs, International Labour Organization
Sumber: