Gelombang Panas Ekstrem Melanda Korea Selatan, Warga Berlindung di Bandara

Gelombang Panas Ekstrem Melanda Korea Selatan, Warga Berlindung di Bandara

Heat Wave Korea Selatan, Image: DALLĀ·E 3--

riau.disway.id - Korea Selatan sedang menghadapi salah satu gelombang panas paling parah dalam sejarahnya. Suhu udara di wilayah selatan negara itu mencapai 42,5 derajat Celsius, sementara pemerintah harus mengerahkan berbagai sumber daya untuk melindungi masyarakat dari ancaman kesehatan akibat cuaca ekstrem.

Presiden Lee Jae Myung meminta seluruh lembaga pemerintah memobilisasi sumber daya yang tersedia. Gelombang panas tersebut bahkan disebut sebagai "bencana nasional" karena dampaknya telah mengganggu aktivitas masyarakat dan menyebabkan korban jiwa.

Situasi ini membuat berbagai lokasi yang biasanya tidak berkaitan dengan penanganan bencana berubah menjadi tempat perlindungan. Bandara, misalnya, menjadi ruang berteduh bagi warga yang membutuhkan tempat sejuk tanpa harus mengeluarkan biaya.

Suhu 42,5 Derajat Picu Krisis Kesehatan

Suhu 42,5 derajat Celsius tercatat di Kota Yangsan, Korea Selatan, pada Minggu. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi yang tercatat di tengah gelombang panas yang terus melanda sejumlah wilayah.

Dampaknya sudah terasa pada sektor kesehatan. Otoritas Korea Selatan melaporkan sedikitnya 23 orang meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan panas sepanjang tahun ini.

Sejak pertengahan Mei, hampir 2.500 orang juga telah mendatangi unit gawat darurat karena mengalami gangguan kesehatan yang berkaitan dengan suhu tinggi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa gelombang panas bukan hanya persoalan ketidaknyamanan. Ketika suhu ekstrem berlangsung lama, risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, tekanan darah rendah, hingga heatstroke dapat meningkat, terutama pada lansia dan orang yang bekerja di luar ruangan.

Bandara Berubah Menjadi Tempat Perlindungan

Salah satu gambaran paling mencolok dari kondisi tersebut terlihat di sejumlah bandara Korea Selatan.

Bandara yang biasanya menjadi tempat keberangkatan dan kedatangan penumpang kini dimanfaatkan sebagian warga sebagai tempat berlindung dari panas. Fasilitas pendingin udara membuat terminal bandara menjadi lokasi yang lebih nyaman dibandingkan ruang terbuka.

Kelompok lansia dan tunawisma termasuk di antara masyarakat yang memanfaatkan ruang tersebut.

Sejumlah foto yang beredar di media lokal memperlihatkan orang-orang beristirahat di bangku dan area terminal. Sebagian bahkan menggunakan handuk sebagai alas atau selimut ketika beristirahat.

Seorang warga mengatakan dirinya sesekali datang ke Bandara Gimpo bersama teman-temannya ketika cuaca terlalu panas. Menurutnya, bandara menjadi tempat yang nyaman untuk beristirahat tanpa perlu mengeluarkan uang.

Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana cuaca ekstrem dapat mengubah pola aktivitas masyarakat. Tempat publik dengan pendingin udara menjadi semakin penting ketika suhu luar ruangan mencapai tingkat berbahaya.

Drone Membantu Mengawasi Petani

Pemerintah daerah juga mencari cara baru untuk melindungi masyarakat yang tetap harus bekerja di luar ruangan.

Di wilayah pedesaan seperti Provinsi Gyeongsang Utara, drone diterjunkan untuk membantu mengawasi para petani. Drone tersebut dilengkapi pengeras suara dan kamera pencitraan termal.

Perangkat itu dapat terbang di atas area pertanian sambil memberikan peringatan kepada petani agar beristirahat dan segera mencari tempat yang lebih sejuk.

Langkah tersebut menjadi penting karena sebagian petani merupakan kelompok lanjut usia yang tetap bekerja di tengah suhu ekstrem.

Penggunaan kamera termal juga memungkinkan pemantauan kondisi lingkungan dari udara. Teknologi semacam ini memberikan pemerintah daerah cara tambahan untuk menjangkau area pertanian yang luas tanpa harus menempatkan petugas di setiap lokasi.

Jalanan Disiram untuk Mengurangi Panas

Di Kota Yangsan, pemerintah menggunakan truk penyemprot air untuk membasahi jalanan yang terpapar sinar matahari.

Aspal dan permukaan perkotaan dapat menyerap serta menyimpan panas dalam jumlah besar. Ketika suhu udara meningkat, permukaan jalan dapat menjadi jauh lebih panas dibandingkan udara di sekitarnya.

Pemerintah daerah juga membagikan air minum dingin secara gratis di sejumlah lokasi publik seperti taman, pasar, dan halte bus.

Langkah sederhana tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat mempertahankan asupan cairan ketika mereka harus berada di luar ruangan.

Kegiatan Olahraga dan Budaya Dibatalkan

Gelombang panas juga mulai mengganggu berbagai kegiatan yang biasanya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Korea Selatan.

Badan meteorologi nasional merekomendasikan pembatalan berbagai kegiatan luar ruangan. Upacara pergantian penjaga di Istana Gyeongbokgung termasuk kegiatan yang dihentikan sementara.

Kompetisi baseball juga terkena dampaknya. Organisasi baseball nasional membatalkan seluruh pertandingan yang dijadwalkan berlangsung selama sepekan.

Keputusan tersebut muncul setelah seorang penonton berusia 23 tahun dilaporkan pingsan saat pertandingan di Incheon. Ia diduga mengalami dehidrasi dan tekanan darah rendah akibat panas.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa risiko gelombang panas tidak hanya mengancam pekerja luar ruangan. Orang yang sekadar menghadiri kegiatan olahraga pun dapat mengalami gangguan kesehatan jika terpapar suhu ekstrem dalam waktu lama.

Mahasiswa Ciptakan Aplikasi Jalur Teduh

Di tengah berbagai tindakan pemerintah, masyarakat juga mulai menciptakan solusi sendiri.

Seorang mahasiswa bernama Yu Min-jun mengembangkan aplikasi bernama Geuneulro. Nama tersebut berasal dari istilah Korea yang berkaitan dengan jalan atau rute yang teduh.

Aplikasi itu menggunakan posisi matahari serta bayangan yang dihasilkan bangunan dan pepohonan untuk membantu pengguna memilih jalur berjalan kaki yang lebih banyak terlindung dari sinar matahari.

Aplikasi tersebut kemudian mendapatkan perhatian besar, terutama di kalangan mahasiswa.

Yu mengatakan gagasan tersebut muncul setelah dirinya sendiri mengalami kesulitan ketika bepergian di tengah cuaca yang sangat panas.

Ia menggambarkan kondisi musim panas tersebut seperti merasa menjadi daging yang sedang dipanggang.

Menurut Yu, popularitas aplikasi itu menunjukkan bahwa banyak orang sedang mengalami masalah yang sama.

Panas Diperkirakan Belum Berakhir

Para ahli memperkirakan kondisi panas dapat sedikit mereda mulai akhir pekan, dengan suhu siang hari turun ke sekitar 36 derajat Celsius.

Namun, penurunan tersebut belum berarti ancaman gelombang panas benar-benar berakhir. Cuaca panas diperkirakan masih dapat bertahan, sementara badan meteorologi Korea memperkirakan terdapat kemungkinan 50 persen bahwa suhu pada September dan Oktober tetap berada di atas rata-rata.

Kondisi tersebut membuat pemerintah dan masyarakat harus bersiap menghadapi periode panas yang lebih panjang.

Gelombang Panas Jadi Peringatan Perubahan Iklim

Gelombang panas Korea Selatan memperlihatkan bagaimana kenaikan suhu ekstrem dapat memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan.

Rumah sakit menghadapi peningkatan pasien, kegiatan olahraga dan budaya harus dibatalkan, petani membutuhkan pengawasan tambahan, sementara warga mencari ruang publik yang memiliki pendingin udara untuk bertahan dari panas.

Pemerintah merespons dengan teknologi drone, truk penyemprot air, distribusi air minum, serta berbagai langkah perlindungan lainnya. Masyarakat juga mulai menggunakan teknologi sederhana seperti aplikasi pencari jalur teduh.

Krisis ini sekaligus memperkuat peringatan bahwa panas ekstrem dapat menjadi persoalan sosial yang membutuhkan kesiapan jangka panjang. Ketika suhu tinggi menjadi semakin sering dan berlangsung lebih lama, perlindungan terhadap kelompok rentan, akses terhadap ruang sejuk, serta sistem peringatan dini akan semakin penting.

Penutup

Korea Selatan kini tidak hanya menghadapi cuaca panas, tetapi juga dampak sosial yang muncul ketika suhu mencapai tingkat ekstrem. Rekor 42,5 derajat Celsius telah memaksa pemerintah mengambil langkah luar biasa, sementara warga mencari berbagai cara untuk tetap aman.

Dari bandara yang berubah menjadi tempat perlindungan hingga drone yang mengingatkan petani untuk beristirahat, respons Korea Selatan menunjukkan bahwa menghadapi gelombang panas membutuhkan kombinasi kebijakan publik, teknologi, dan perubahan perilaku masyarakat.

Fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa panas ekstrem dapat berkembang menjadi krisis kesehatan dan sosial. Semakin sering rekor suhu terpecahkan, semakin penting pula kesiapan menghadapi kondisi yang sebelumnya dianggap tidak biasa.

Referensi

  • BBC News, "Drone Warnings, Sheltering in Airports: South Korea Battles Historic Heatwave"
  • Reuters, laporan mengenai gelombang panas Korea Selatan
  • The Korea Times, laporan mengenai warga yang berlindung di bandara

Sumber: