Krisis Kepunahan Menghantui Australia, Numbat Menjadi Simbol Harapan
Kepunahan Satwa, Image: DALLĀ·E 3--
riau.disway.id - Australia memiliki reputasi sebagai salah satu negeri dengan satwa paling unik di dunia. Kanguru, koala, wombat, quokka, hingga berbagai jenis burung endemik membuat benua tersebut menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati paling penting di planet ini.
Namun kekayaan tersebut sedang menghadapi ancaman besar.
Australia kini disebut berada di garis depan krisis kepunahan global. Sejumlah spesies kehilangan habitat, menghadapi predator invasif, terkena penyakit, serta harus beradaptasi dengan perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Di tengah situasi tersebut, seekor marsupial kecil bernama numbat justru menghadirkan cerita berbeda. Setelah puluhan tahun berada dalam tekanan, populasinya mulai pulih dan menjadi salah satu contoh bahwa upaya konservasi masih dapat menyelamatkan spesies dari ancaman kepunahan.
Banyak Satwa Australia Berada Di Ujung Tanduk
Keunikan Australia terletak pada tingginya jumlah spesies yang hanya hidup secara alami di benua tersebut. BBC melaporkan bahwa lebih dari 80 persen spesies di Australia tidak ditemukan di tempat lain.
Kondisi itu membuat kepunahan di Australia memiliki konsekuensi yang sangat besar. Jika spesies endemik benar-benar hilang, tidak ada populasi alami lain di negara berbeda yang dapat menjadi sumber pemulihan.
Australia sendiri diperkirakan kehilangan sekitar empat spesies setiap dekade. Para peneliti meyakini jumlah spesies yang telah benar-benar punah kemungkinan lebih tinggi daripada angka resmi pemerintah.
Dalam daftar resmi, pemerintah Australia mencatat 67 spesies telah punah. Namun para ilmuwan memperkirakan setidaknya 100 spesies tumbuhan dan hewan mungkin telah hilang untuk selamanya.
Yang lebih mengkhawatirkan, jumlah spesies yang masuk kategori terancam masih terus bertambah.
Predator Asing Menjadi Ancaman Besar
Salah satu masalah terbesar berasal dari spesies yang sebenarnya bukan bagian dari ekosistem asli Australia.
Kucing liar dan rubah menjadi predator yang sangat berbahaya bagi sejumlah mamalia kecil. Satwa asli yang selama evolusinya tidak menghadapi predator seperti itu sering kali tidak memiliki mekanisme pertahanan yang memadai.
Kucing liar bahkan diperkirakan membunuh sekitar tiga miliar hewan di Australia setiap tahun.
Selain predator, terdapat pula berbagai spesies invasif lain seperti kelinci, kodok tebu, dan semut api. Tanaman invasif juga dapat mengubah habitat dan mengurangi ruang hidup bagi tumbuhan maupun satwa asli.
Persoalan tersebut menjadi semakin rumit ketika habitat alami terfragmentasi akibat aktivitas manusia.
Habitat Makin Terpecah
Sumber: